Tampilkan postingan dengan label KITAB KUNING. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KITAB KUNING. Tampilkan semua postingan

Rabu, 24 Agustus 2016

BAB 52-55

Terjemahan Riyadhus Shalihin
BAB 52-55
( بِسْمِ الله الرحمَنِ الحيمِ )
Riyadhus Shalihin

۞ BAB 52 ۞

Keutamaan Mengharapkan

Allah Ta'ala berfirman dalam mengkhabarkan perihal hambaNya yakni Nabi Shalih, iaitu:

"Dan saya - Shalih - menyerahkan urusanku kepada Allah, sesungguhnya Allah adalah Maha Melihat keadaan hamba-hamba. Maka Allah melindunginya dari kejahatan-kejahatan tipu daya mereka itu." (Ghafir: 44-45)

439. Dari Abu Hurairah r.a. dari Rasulullah s.a.w., sabdanya:

"Allah Azza wa jalla berfirman-dalam Hadis Qudsi: "Aku adalah menurut sangkaan hambaKu dan Aku akan selalu besertanya selama ia mengingat padaKu. Demi Allah, nescayalah Allah itu lebih gembira kepada taubatnya seseorang hambaNya daripada seseorang di antara engkau semua yang menemukan sesuatu bendanya yang telah hilang di padang yang luas.

Barangsiapa yang mendekat padaKu dalam jarak sejengkal, maka Aku mendekat padanya dalam jarak sehasta dan barangsiapa yang mendekat padaKu dalam jarak sehasta, maka Aku mendekat padanya dalam jarak sedepa. Jikalau hambaKu itu mendatangi Aku dengan berjalan, maka Aku mendatanginya dengan bergegas-gegas." (Muttafaq 'alaih)

Ini disebutkan dalam salah satu riwayat Imam Muslim. Tentang sejarahnya sudah dihuraikan di muka dalam bab yang sebelum ini - lihat Hadis no. 412.

Diriwayatkan pula dalam kedua kitab shahih Wa ana ma'ahu bina yadzkuruni, dengan nun, sedang dalam riwayat di atas dengan kata haitsu dengan menggunakan tsa'. Keduanya adalah shahih.

440. Dari Jabir r.a. bahawasanya Ia mendengar Nabi s.a.w., sebelum wafatnya kurang tiga hari pernah bersabda:

"Janganlah seseorang dari engkau semua itu meninggal dunia, melainkan ia harus memperbaguskan sangkaannya kepada Allah Azza wa jalla." (Riwayat Muslim)

441. Dari Anas r.a., katanya: "Saya mendengarkan Rasulullah s.a.w. bersabda:

"Allah Ta'ala berfirman - dalam Hadis Qudsi: "Hai anak Adam - yakni manusia, sesungguhnya engkau itu selama suka berdoa dan mengharapkan kerahmatanKu, maka pastilah Aku memberikan pengampunan padamu atas segala dosa yang ada padamu dan Aku tidak peduli - betapa banyaknya. Hai anak Adam, andaikata dosa-dosamu itu telah mencapai setinggi langit - kerana sangat banyaknya, kemudian engkau memohonkan pengampunan padaKu, pasti Aku mengampuninya. Hai anak Adam, andaikata engkau datang padaku dengan membawa kesalahan hampir sepenuh bumi, kemudian engkau menemui Aku, asalkan engkau tidak menyekutukan sesuatu denganKu, pastilah Aku akan mendatangimu dengan membawa pengampunan hampir sepenuh bumi itu pula."

Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan ia mengatakan bahawa ini adalah Hadis hasan.

'Ananas sama-i dengan fathahnya 'ain, dikatakan bahawa maknanya itu ialah apa-apa yang tampak padamu dari pandangan langit itu jikalau engkau mengangkat kepalamu, ada pula yang mengatakan bahawa ertinya itu ialah mega. Qurabui ardhi dengan dhammahnya qaf dan ada yang mengatakan dengan kasrahnya qaf, ertinya ialah sesuatu yang hampir memenuhi bumi itu. Wallahu alam.

_________

۞ BAB 53 ۞

Mengumpulkan Antara Takut Dan Mengharapkan

Ketahuilah bahawasanya yang terpilih bagi seseorang hamba Tuhan di kala ia dalam keadaan sihat ialah supaya ia selalu dalam ketakutan di samping pengharapan kepada Tuhan. Ketakutan serta pengharapannya itu harus sama nilainya. Tetapi dalam keadaan sakit, haruslah ia lebih mengutamakan pengharapannya. Kaedah-kaedah syariat dari nash-nash al-Kitab dan as-Sunnah dan lain-lainnya menampakkan benar-benar keharusan yang sedemikian itu.

Allah Ta'ala berfirman:

"Maka tidak akan merasa aman dari tipudaya - yakni siksa - Allah, melainkan kaum yang mendapatkan kerugian." (al-A'raf: 99)

Allah Ta'ala berfirman lagi:

"Bahawasanya saya tidak akan berputus asa dari kerahmatan Allah, melainkan orang-orang kafir," (Yusuf: 87)

Allah Ta'ala juga berfirman:

"Pada hari itu - yakni hari kiamat ada wajah-wajah yang putih yakni wajah-wajah kaum mu'minin - dan wajah-wajah yang hitam yakni wajah-wajah kaum kafirin." (ali-lmran: 106)

Allah Ta'ala berfirman lagi:

"Sesungguhnya Tuhanmu adalah sangat cepat penyiksaanNya dan sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun lagi Penyayang." (al-A'raf: 167)

Allah Ta'ala berfirman pula:

"Sesungguhnya orang-orang yang berbakti itu nescayalah dalam syurga Na'im - penuh kenikmatan - dan sesungguhnya orang-orang yang menyeleweng itu nescayalah dalam neraka Jahim - penuh kenistaan." (al-lnfithar: 13-14)

Juga Allah Ta'ala berfirman:

"Maka barangsiapa yang berat timbangan amal kebaikannya, maka ia adalah dalam kehidupan yang menyenangkan. Tetapi barangsiapa yang ringan timbangan amal kebaikannya, maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah." (al-Qari'ah: 6-9)

Ayat-ayat yang semakna dengan di atas itu amat banyak sekali. Maka terkumpullah di dalamnya ketakutan dan pengharapan dalam dua ayat secara bersambungan atau dalam beberapa ayat atau bahkan dalam satu ayat saja.

442. Dari Abu Hurairah r.a. bahawasanya Rasulullah s.a.w. bersabda:

"Andaikata seseorang mu'min itu mengetahui bagaimana keadaan siksa yang ada di sisi Allah, tentu tidak seorang pun akan loba dengan syurgaNya. Tetapi andaikata seseorang kafir itu mengetahui bagaimana besarnya kerahmatan yang ada di sisi Allah, tentu tidak seorang pun yang akan berputus asa untuk dapat memasuki syurgaNya." (Riwayat Muslim)


443. Dari Abu Said al-Khudri r.a. bahawasanya Rasulullah s.a.w. bersabda:

"Apabila janazah itu telah diletakkan - dalam usungan - dan orang-orang lelaki membawanya di atas leher-lehernya - diangkat ke kubur, maka jikalau janazah itu shalih, ia berkata: "Dahulukanlah aku, dahulukanlah aku," - yakni segerakan ditanam kerana sudah amat rindu pada kerahmatan serta kenikmatan dalam kubur. Tetapi jikalau janazah itu bukan shalih, maka ia pun berkata: "Aduhai celakanya tubuhku, ke mana engkau semua membawa tubuhku ini." Suara janazah itu dapat didengar oleh segala benda, melainkan manusia, sebab andaikata ia mendengarnya, tentulah ia akan mati sekali." [47] (Riwayat Bukhari)

44. Dari Ibnu Mas'ud r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda kepadaku:

"Syurga itu lebih dekat dari seseorang di antara engkau semua daripada tali terumpahnya dan neraka pun demikian pula." (Riwayat Bukhari)

Keterangan:

Menilik Hadis ini, maka dapat diambil kesimpulan bahawa hanya ketaatan kepada Allah Ta'ala itu sajalah yang dapat menyampaikan seseorang ke syurga, sedang kemaksiatan adalah mendekatkannya menuju ke neraka. Masing-masing dari keduanya, baik pun ketaatan atau pun kemaksiatan itu dapat berlaku atau terlaksana dalam segala sesuatu sekalipun tampaknya amat kecil dan tidak bererti, namun semua amalan itu pasti ada nilainya di sisi Allah, yakni penilaian berupa pahala untuk ketaatan dan siksa untuk kemaksiatan.

Nota kaki:

Sebabnya mati sekali ialah kerana sangat kerasnya suara atau kerana dahsyatnya apa yang dilihat oleh mayat tadi perihal bencana dan malapetaka yang diteriakkan olehnya.

__,,_______
۞ BAB 54 ۞

Keutamaan Menangis Kerana Takut Kepada-Allah Ta'ala Dan Kerana Rindu PadaNya

Allah Ta'ala berfirman:

"Dan orang-orang yang beriman itu sama meniarap dengan dagunya sambil menangis dan al-Quran itu menambah ketundukan mereka." (al-lsra': 109)

Allah Ta'ala berfirman lagi:

"Adakah dari pembicaraan - al-Quran - ini engkau semua menjadi hairan, lalu engkau semua ketawa dan tidak menangis?" (an-Najm: 59-60)


445. Dari Ibnu Mas'ud r.a., katanya: "Nabi s.a.w. bersabda kepadaku: "Bacakanlah al-Quran untukku." Saya berkata: "Ya Rasulullah, apakah saya akan membacakan al-Quran itu, sedangkan ia diturunkan atas Tuan?" Beliau s.a.w. bersabda: "Saya senang kalau mendengarnya dari orang lain."

Saya lalu membacakan untuknya surah an-Nisa', sehingga sampailah saya pada ayat yang ertinya: "Bagaimanakah ketika Kami datangkan kepada setiap ummat seorang saksi dan engkau Kami jadikan saksi atas ummat ini?" - Surat an-Nisa' 41.

Setelah itu Rasulullah s.a.w. lalu bersabda: "Sudah cukuplah bacaanmu sekarang." Saya menoleh kepada beliau s.a.w., tiba-tiba kedua mata beliau itu meleleh airmatanya." (Muttafaq 'alaih)


446. Dari Anas r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. berkhutbah, tidak pernah saya mendengar suatu khutbah pun yang semacam itu kerana amat menakutkan. Beliau s.a.w. bersabda:

"Andaikata engkau semua dapat mengetahui apa yang saya ketahui, nescaya engkau semua akan ketawa sedikit dan menangis banyak-banyak." Anas berkata: "Maka para sahabat Rasulullah s.a.w. sama menutupi mukanya sendiri-sendiri dan mereka itu menangis terisak-isak." (Muttafaq 'alaih)

Keterangannya telah lampau dalam bab: Takut.


447. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda:

"Tidak akan masuk neraka seseorang yang menangis kerana takut kepada Allah sehingga susu itu dapat kembali ke teteknya - menunjukkan suatu kemustahilan. Tidak akan berkumpullah debu fi-sabilillah itu* dengan asap neraka Jahanam."

Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan ia mengatakan bahawa ini adalah Hadis hasan shahih.

448. Dari Abu Hurairah r.a. pula, katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda:

"Ada tujuh macam orang yang akan dinaungi oleh Allah dalam naunganNya pada hari yang tiada naungan melainkan naunganNya sendiri - yakni hari kiamat, iaitu imam - kepala atau pemimpin - yang adil. Pemuda yang membesar -sejak kecilnya - dalam beribadat kepada Allah, orang yang hatinya tergantung - sangat memerhatikan -kepada masjid-masjid dua orang yang saling cinta-mencintai kerana Allah, keduanya berkumpul atas keadaan sedemikian itu dan keduanya berpisah atas keadaan sedemikian itu pula, orang lelaki yang diajak oleh wanita yang mempunyai kedudukan dan berparas cantik, lalu ia berkata: "Sesungguhnya saya ini takut kepada Allah," - demikian pula sebaliknya, iaitu wanita yang diajak lelaki lalu bersikap seperti di atas, juga orang yang bersedekah dengan suatu sedekah lalu disembunyikan sedekahnya itu sehingga seolah-olah tangan kirinya tidak tahu apa yang dinafkahkan oleh tangan kanannya dan orang yang mengingat pada Allah di waktu keadaan sunyi lalu melelehlah airmata dari kedua matanya." (Muttafaq 'alaih)

Maksudnya ialah berjihad memerangi musuh agama Allah sewaktu-waktu untuk mengharapkan keredhaanNya.

449. Dari Abdullah bin asy-Syikhkhir r.a., katanya: "Saya mendatangi Rasulullah s.a.w. dan beliau sedang bersembahyang dan dari dadanya itu terdengar suara bagaikan mendidihnya kuali kerana beliau sedang menangis."

Hadis hasan shahih yang diriwayatkan oleh Imam-imam Abu Dawud dan Tirmidzi dalam asy-Syamail dengan isnad yang shahih.

450. Dari Anas r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda kepada Ubay bin Ka'ab r.a., demikian:

"Sesungguhnya Allah Azzawajalla menyuruh padaku supaya saya bacakan untukmu ayat ini - ertinya: "Tidaklah akan dapat meninggalkan orang-orang kafir dari ahlul-kitab dan musyrik itu - akan kepercayaannya yang sesat - sampai datang kepada mereka keterangan yang jelas. "Albayyinah" 1-8. Ia berkata: "Apakah Allah menjelaskan namaku pada Tuan?" Beliau s.a.w. bersabda: "Ya." Kemudian Ubay r.a. menangis." (Muttafaq 'alaih)

Dalam sebuah riwayat lain disebutkan: "Maka Ubay mulai menangis." - Ubay adalah seorang dari golongan sahabat Anshar.

Keterangan:

Sebabnya Ubay r.a. menangis ialah kerana terharu hatinya, gembira bercampur rasa takut kepada Allah Ta'ala, kerana merasa masih kurang kebaktian serta ketaatan yang dilakukan olehnya. Ada pun rasa terharunya itu di antaranya disebabkan kerana dalam surat "Albayyinah" bahagian terakhir dijelaskan bahawa orang-orang semacam sahabat Ubay r.a. itu amat diredhai oleh Allah Ta'ala dan orang itu pun benar-benar sudah redha kepadaNya. Manakala seseorang itu telah diredhai oleh Allah, maka tiada lain tempatnya di akhirat nanti, kecuali syurga.

451. Dari Anas r.a. pula, katanya: "Abu Bakar berkata kepada Umar radhiallahu 'anhuma sesudah wafatnya Rasulullah s.a.w.: "Mari kita bersama-sama berangkat ke tempat Ummu Aiman untuk menziarahinya, sebagaimana halnya Rasulullah s.a.w. juga menziarahinya." Ketika keduanya sampai di tempat Ummu Aiman, lalu wanita ini menangis. Keduanya berkata: "Apakah yang menyebabkan engkau menangis? Tidakkah engkau ketahui bahawasanya apa yang ada di sisi Allah itu lebih baik untuk Rasulullah s.a.w." Ummu Aiman lalu menjawab: "Sesungguhnya saya tidaklah menangis kerana saya tidak mengetahui bahawasanya apa yang ada di sisi Allah itu lebih baik untuk Rasulullah s.a.w., tetapi saya menangis ini ialah kerana sesungguhnya wahyu itu telah terputus - sebab Nabi s.a.w. telah wafat." Maka ucapan Ummu Aiman menggerakkan hati kedua sahabat itu untuk menangis. Kemudian keduanya itu pun menangis bersama Ummu Aiman.

Hadis di atas sudah disebutkan dalam bab: Menziarahi orang-orang ahli kebaikan - lihat Hadis no. 359.

452. Dari Ibnu Umar radhiallahu 'anhuma, katanya: "Ketika sudah sangat geringnya Rasulullah s.a.w., lalu ditanyakan padanya siapa yang akan menjadi imam shalat. Beliau s.a.w. lalu bersabda: "Perintahkanlah pada Abu Bakar, supaya ia bersembahyang menjadi imam orang-orang banyak!" Aisyah radhiallahu 'anha berkata: "Sesungguhnya Abu Bakar itu adalah seorang lelaki yang lemah, jikalau membaca al-Quran, maka bacaannya terkalahkan oleh tangisnya - sehingga bacaannya tidak jelas." Beliau s.a.w. lalu bersabda lagi: "Perintahkanlah pada Abu Bakar supaya bersembahyang sebagai imam!"

Dalam lain riwayat disebutkan: Dari Aisyah radhiallahu 'anha, katanya: "Saya berkata: "Sesungguhnya Abu Bakar itu apabila mengganti kedudukan Tuan - sebagai imam, ia tidak dapat memperdengarkan suaranya kepada orang-orang banyak sebab tangisnya." (Muttafaq 'alaih)

453. Dari Ibrahim bin Abdur Rahman bin 'Auf, bahawasanya Abdur Rahman bin 'Auf r.a. diberi hidangan makanan, sedangkan waktu itu ia berpuasa, lalu ia berkata: "Mus'ab bin Umair itu terbunuh - fi-sabilillah. Ia adalah seorang yang lebih baik daripada-ku, tetapi tidak ada yang digunakan untuk mengafaninya - membungkus janazahnya - kecuali selembar burdah. Jikalau kepalanya ditutup, maka nampaklah kedua kakinya dan jikalau kedua kakinya ditutup maka nampaklah kepalanya. Selanjutnya untuk kita sekarang ini dunia telah dibeberkan seluas-luasnya - banyak rezeki. Atau ia berkata: "Kita telah dikurniai rezeki dunia sebagaimana yang kita terima ini - amat banyak sekali. Kita benar-benar takut kalau-kalau kebaikan-kebaikan kita ini didahulukan untuk kita sekarang - sejak kita di dunia ini, sedang di akhirat tidak dapat bahagian apa-apa." Selanjutnya ia lalu menangis dan makanan itu ditinggalkan. (Riwayat Bukhari)


454. Dari Abu Umamah, iaitu Shuday bin 'Ajlan al-Bahili r.a. dari Nabi s.a.w., sabdanya:

"Tiada sesuatupun yang lebih dicintai oleh Allah Ta'ala daripada dua titisan dan dua bekas. Dua titisan itu ialah titisan airmata kerana takut kepada Allah dan titisan darah yang dialirkan fi sabilillah. Adapun dua bekas iaitu bekas luka fi-sabilillah dan bekas dalam mengerjakan kefardhuan dari beberapa kefardhuan Allah Ta'ala - semacam bekas sujud dan lain-lain."

Diriwayatkan Imam Tirmidzi dan ia mengatakan bahawa ini adalah Hadis hasan.

Dalam bab ini masih banyak lagi Hadisnya, di antaranya ialah Hadisnya al'Irbadh bin Sariyah r.a., katanya: "Kita semua diberi nasihat oleh Rasulullah s.a.w., iaitu suatu nasihat yang semua hati dapat menjadi takut kerananya dan mata pun dapat melelehkan airmata." Hadis ini telah lalu dalam bab: Melarang kebid'ahan-kebid'ahan - lihat Hadis no. 157 dan 171.


////////////////////////////////

۞ BAB 55 ۞

Keutamaan Zuhud Di Dunia Dan Anjuran Untuk Mempersedikit Keduniaan Dan Keutamaan Kefakiran

Allah Ta'ala berfirman:

"Hanyasanya perumpamaan kehidupan dunia ini adalah seperti air yang Kami turunkan dari langit, kemudian tumbuhlah kerananya itu tumbuh-tumbuhan di bumi, di antaranya ada yang dimakan manusia dan ternak. Sehingga setelah bumi itu mengenakan pakaian hiasannya dan menjadi indah permai dan penduduknya mengira, bahawa mereka akan dapat menguasainya, maka datanglah perintah Kami di waktu malam atau siang - untuk merosakkan semua itu sebagai siksa, lalu Kami jadikanlah bumi itu sebagai ladang padi yang telah dituai, seolah-olah kelmarinnya tidak terjadi sesuatu apapun. Demikianlah Kami jelaskan ayat-ayat Kami kepada orang-orang yang berfikir." (Yunus: 24)

Allah Ta'ala berfirman pula:

"Dan buatlah untuk mereka perumpamaan kehidupan dunia, sebagai air hujan yang Kami turunkan dari langit dan kerananya lalu tumbuhlah tumbuh-tumbuhan di bumi, kemudian setelah subur lalu menjadi kering yang dapat diterbangkan oleh angin dan Allah itu adalah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Harta benda dan anak-anak itu adalah perhiasan kehidupan dunia dan amalan-amalan yang baik yang kekal pahalanya adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu dan lebih bagus pula harapannya." (al-Kahf: 45-46)

Juga Allah Ta'afa berfirman:

"Ketahuilah olehmu semua, bahawasanya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda-gurau, perhiasan dan bermegah-megah antara sesamamu, berlumba banyak kekayaan dan anak-anak. Perumpamaannya adalah seperti hujan yang menghairankan orang-orang kafir - yang menjadi petani - melihat tumbuh tanamannya, kemudian menjadi kering lalu engkau lihat menjadi kuning warnanya, kemudian menjadi hancur binasa. Dan di akhirat siksa yang amat sangat untuk mereka itu - yang berbuat kesalahan, juga pengampunan dari Allah serta keredhaan - bagi orang-orang yang berbuat kebaikan - dan tidaklah kehidupan dunia ini melainkan hanyalah kesenangan tipuan belaka." (al-Hadid: 20)

Allah Ta'ala berfirman lagi:

"Diperhiaskanlah untuk para manusia itu - yakni diberi perasaan bernafsu - untuk mencintai kesyahwatan-kesyahwatan dari para wanita, anak-anak, kekayaan yang berlimpah-limpah dari emas dan perak, kuda yang bagus, binatang ternak dan sawah ladang. Demikian itulah kesenangan kehidupan dunia dan di sisi Allah ada tempat kembali yang sebaik-baiknya." (ali-Imran: 14)

Allah Ta'ala berfirman pula:

"Hai sekalian manusia, sesungguhnya janji Allah itu adalah benar. Maka dari itu, janganlah engkau semua tertipu oleh kehidupan dunia ini dan janganlah sekali-kali kepercayaanmu kepada Allah itu tertipu oleh sesuatu yang amat pandai menipu." (Fathir: 5)

Juga Allah Ta'ala berfirman:

"Engkau semua dilalaikan oleh perlumbaan mencari kekayaan, sehingga engkau semua mengunjungi kubur - yakni sampai mati. jangan begitu, nanti engkau semua akan mengetahui, kemudian sekali lagi jangan begitu, nanti engkau semua akan mengetahui - mana yang sebenarnya salah dan mana yang tidak. jangan begitu, andaikata engkau semua dapat mengetahui dengan ilmu yakin, tentu engkau semua tidak berbuat seperti di atas itu." (at-Takatsur: 1-5)

Allah Ta'ala juga berfirman:

"Dan tidaklah kehidupan di dunia ini melainkan senda-gurau dan permainan belaka dan sesungguhnya perumahan akhirat adalah kehidupan yang sebenarnya, jikalau mereka mengetahui." (al-Ankabut: 64)

Ayat-ayat dalam bab ini amat banyak sekali dan sudah masyhur.

Keterangan:

Ada sementara orang yang berpendapat bahawa yang dinamakan zuhud itu ialah dengan menyiksa diri sendiri, makan dan minum harus dikurangi sesangat-sangatnya, demikian pula tidur dan istirehatnya, pakaian cukup yang buruk-buruk, rambut biarkan kusut-masai tanpa disisir, mandi pun harus jarang-jarang, berjalan harus selalu menundukkan muka, tidak perlu bekerja keras-keras dan cukuplah dengan menerima belas kasihan orang lain, bertasbih sepanjang hari dan malam dan lain-lain kelakuan yang bukan-bukan. Jelaslah bahawa bukan yang sedemikian ini yang dikehendaki oleh Rasulullah s.a.w. dalam pengertian zuhud sebagaimana yang tercantum dalam Hadis di atas.

Memang zuhud itu apabila kita lakukan, pasti kita akan dicintai oleh Allah dan seluruh manusia. Nabi s.a.w. bersabda: "Berlaku zuhudlah di dunia, pasti dicintai Allah dan berlaku zuhudlah terhadap milik orang lain, pasti dicintai oleh sesama manusia."

Maka dari itu yang sekarang perlu kita sedari sebaik-baiknya ialah, apakah yang dinamakan zuhud itu?

Zuhud ialah meninggalkan ketamakan dalam urusan keduniawian sehingga lupa ketaatan kepada Allah, lengah untuk mencari bekal hidup di akhirat nanti. Inilah ertinya zuhud di dunia. Ringkas saja, bukan. Kalau ini dilakukan, pasti Allah mencintai kita.

Selain zuhud sebagaimana pengertiannya di atas itu, hendaknya pula kita jangan ingin memiliki sesuatu yang bukan kepunyaan kita, sehingga timbul hasrat ingin merebut yang bukan hak kita itu. Boleh saja kita ingin mempunyai yang seperti milik orang lain, tetapi carilah yang lain dan jangan yang sudah menjadi milik orang lain itu dirampas. Inilah yang diertikan zuhud dengan apa yang ada pada para manusia. Kalau ini kita lakukan sudah pasti tidak seseorang pun yang membenci kita. Kita tentu disukai sebab kita pandai bergaul dan menghormati milik orang.

Demikianlah dua pengertian zuhud dalam Agama Islam. Maka apabila diertikan lebih dari ini, maka teranglah bahawa itu bukan berasal dari ajaran Allah Ta'ala dan RasulNya, tetapi buat-buatan manusia biasa atau mungkin penciplakan dari agama lain atau dari ilmu yang tidak diredhai oleh Allah semacam klinik dan sebagainya.

Lihatlah sejarah Rasulullah s.a.w. Beliau adalah sezuhud-zuhudnya manusia di dunia ini, tetapi beliau s.a.w. pula yang bersabda:

"Badanmu itu wajib kamu penuhi haknya."

Jadi makan minumnya, pakaiannya, kesenangannya dan Iain-lain sebagainya. Beliau s.a.w. juga tidur dan beristirahat, kahwin, bersenda-gurau, berkumpul dengan keluarganya dan lain-lain lagi.

Singkatnya asalkan kita sudah berzuhud sebagaimana dua pengertian dalam Hadis di atas dan menjalankan perintah Allah serta menjauhi larangan-laranganNya, Insya Allah selamatlah hidup kita di dunia sampai di akhirat.

Adapun Hadis-hadisnya, maka lebih banyak lagi untuk dapat diringkaskan, oleh sebab itu kami peringatkan sebahagian saja dengan meninggalkan yang lainnya.

455. Dari 'Amr bin 'Auf al-Anshari r.a. bahawasanya Rasulullah s.a.w. mengirimkan Abu 'Ubaidah al-Jarrah r.a. ke daerah Bahrain sebuah daerah yang masuk wilayah Iraq - dan kedatangannya ke situ ialah untuk mengambil pajak. Kemudian setelah selesai tugasnya, datanglah ia dengan membawa harta dari Bahrain itu. Kaum Anshar sama mendengar akan kedatangan Abu Ubaidah, mereka lalu menunaikan shalat fajar - yakni subuh - bersama Rasulullah s.a.w. Setelah Rasulullah s.a.w. selesai bersembahyang, beliau pun lalu kembali, kemudian mereka menuju kepadanya untuk menemuinya. Rasulullah s.a.w. lalu tersenyum ketika melihat mereka itu terus bersabda: "Saya kira engkau semua sudah mendengar bahawasanya Abu Ubaidah tiba dari Bahrain dengan membawa sesuatu harta." Mereka menjawab: "Benar, ya Rasulullah." Beliau selanjutnya bersabda: "Bergembiralah engkau semua dan bolehlah mengharapkan sesuatu yang akan menyenangkan engkau semua. Demi Allah, bukannya kefakiran itu yang saya takutkan mengenai engkau semua, tetapi saya takut jikalau harta dunia ini diluaskan untukmu semua - yakni engkau semua menjadi kaya raya, sebagaimana telah diluaskan untuk orang-orang yang sebelummu, kemudian engkau semua itu saling berlumba-lumba untuk mencarinya sebagaimana mereka juga berlumba-lumba untuk mengejarnya, lalu harta dunia itu akan merosakkan agamamu semua sebagaimana ia telah merosakkan agama mereka. (Muttafaq 'alaih)

456. Dari Abu Said al-Khudri r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. duduk di atas mimbar dan kita duduk di sekitarnya, lalu beliau s.a.w. bersabda:

"Sesungguhnya salah satu yang saya takutkan atas mu semua sepeninggalku nanti ialah apa yang akan dibukakan untukmu semua itu dari keindahan harta dunia serta hiasan-hiasannya - yakni bahawa meluapnya kekayaan pada ummat Muhammad inilah yang amat ditakutkan, sebab dapat merosakkan agama jikalau tidak waspada mengendalikannya." (Muttafaq'alaih)

457. Dari Abu Said r.a. pula bahawasanya Rasulullah s.a.w. bersabda:

"Sesungguhnya dunia adalah manis dan hijau - yakni menyenangkan sekali - dan sesungguhnya Allah menjadikan engkau semua sebagai pengganti di bumi itu - untuk mengolah dan memakmurkan. Maka Allah akan melihat bagaimana yang engkau semua lakukan -untuk dibalas menurut masing-masing amalannya. Oleh sebab itu, bertaqwalah dalam mengemudikan harta dunia dan bertaqwalah dalam urusan kaum wanita." (Riwayat Muslim)

458. Dari Anas r.a. bahawasanya Nabi s.a.w. bersabda: "Ya Allah. Tidak ada kehidupan yang kekal melainkan kehidupan di akhirat." (Muttafaq 'alaih)

459. Dari Anas r.a. pula dari Rasulullah s.a.w., sabdanya: "Ada tiga macam mengikuti mayat itu ketika di bawa ke kubur, iaitu keluarganya, hartanya dan amalnya. Yang dua kembali dan satu tetap tinggal menyertainya. Keluarga dan hartanya kembali sedang amalnya tetap mengikutinya." (Muttafaq 'alaih)

460. Dari Anas r.a. pula, katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Akan didatangkanlah orang yang ternak kehidupannya di dunia dan ia termasuk golongan ahli neraka pada hari kiamat nanti, lalu diceburkan dalam neraka sekali ceburan, lalu dikatakan: "Hai anak Adam - yakni manusia, adakah engkau dapat merasakan sesuatu kebaikan - keenakan sekalipun sedikit? Adakah suatu kenikmatan yang pernah menghampirimu sekalipun sedikit?" Ia berkata: "Tidak.demi Allah, ya Tuhanku" yakni setelah merasakan pedihnya siksa neraka, maka kenikmatan-kenikmatan dan keenakan-keenakan di dunia itu seolah-olah lenyap sama sekali.

Juga akan didatangkanlah orang yang paling menderita kesengsaraan di dunia dan ia termasuk ahli syurga, lalu ia dimasukkan sekali masuk dalam syurga, lalu dikatakan padanya: "Hai anak Adam, adakah engkau dapat merasakan sesuatu kesengsaraan, sekalipun sedikit? Adakah suatu kesukaran yang pernah menghampirimu sekalipun sedikit?" Ia menjawab: "Tidak, demi Allah, tidak pernah ada kesukaran pun yang menghampiri diriku dan tidak pernah saya melihat suatu kesengsaraan pun sama sekali," - yakni setelah merasakan kenikmatan syurga, maka kesengsaraan dan kesukaran yang pernah diderita di dunia itu seolah-olah lenyap sekaligus. (Riwayat Muslim)

461. Dari al-Mustaurid bin Syaddad r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda:

"Tidaklah dunia ini kalau dibandingkan dengan akhirat, melainkan seperti sesuatu yang seseorang di antara engkau semua menjadikan jarinya masuk dalam air lautan, maka cubalah lihat dengan apa ia kembali - yakni, seberapa banyak air yang melekat di jarinya itu. Jadi dunia itu sangat kecil nilainya dan hanya seperti air yang melekat di jari tadi banyaknya." (Riwayat Muslim)

462. Dari Jabir r.a. bahawasanya Rasulullah s.a.w. berjalan melalui pasar, sedang orang-orang ada di sebelahnya kiri kanan. Kemudian melalui seekor anak kambing kecil telinganya dan telah mati. Beliau s.a.w. menyentuhnya lalu mengambil telinganya, terus bertanya: "Siapakah di antara engkau semua yang suka membeli ini dengan wang sedirham?" Orang-orang menjawab: "Kita semua tidak suka menukarnya dengan sesuatu apa pun dan akan kita gunakan untuk apa itu?" Beliau bertanya lagi: "Sukakah engkau semua kalau ini diberikan saja padamu." Orang-orang menjawab: "Demi Allah, andaikata kambing itu hidup, tentunya juga cacat kerana ia kecil telinganya. Jadi apa harganya lagi setelah kambing itu mati?" Kemudian beliau s.a.w. bersabda: "Demi Allah, nescayalah dunia ini lebih hina di sisi Allah daripada kambing ini bagimu semua." (Riwayat Muslim)

Kanafaihi ertinya ada di sebelahnya kanan kiri dan asakku ertinya kecil telinganya.

463. Dari Abu Zar r.a., katanya: "Saya berjalan bersama Nabi s.a.w. di suatu tempat yang berbatu hitam di Madinah, lalu berhadap-hadapanlah gunung Uhud dengan kita, kemudian beliau s.a.w. bersabda: "Hai Abu Zar." Saya berkata: "Labbaik, ya Rasulullah." Beliau bersabda lagi: "Tidak menyenangkan padaku andaikata saya mempunyai emas sebanyak gunung Uhud ini, sampai berlalu tiga hari lamanya, di antaranya ada sedinar saja yang saya simpan untuk memenuhi hutang, kecuali saya akan mengucapkan dengan memberikan harta itu untuk para hamba Allah demikian demikian demikian." Beliau menunjuk ke sebelah kanan, kiri dan belakangnya - maksudnya bahawa kalau beliau s.a.w. mempunyai harta sebanyak Uhud dan berupa emas, apalagi lainnya, tentu akan disedekahkan kepada hamba-hamba Allah semuanya, kecuali sedinar saja yang akan disimpan jikalau ada hutang yang belum ditunaikannya dan harta sebanyak itu akan dihabiskan membelanjakannya dalam tiga hari saja.

Kemudian beliau s.a.w. berjalan, lalu bersabda lagi: "Sesungguhnya orang-orang yang kayaraya dengan harta dunia itulah yang tersedikit pahala akhiratnya pada hari kiamat nanti, melainkan orang yang berkata demikian, demikian dan demikian - yakni membelanjakan hartanya itu untuk kebaikan." Beliau s.a.w. menunjuk ke kanan, kiri dan belakangnya. Sabdanya lagi: "Tetapi sedikit sekali orang yang suka melakukan demikian tadi." Seterusnya beliau bersabda padaku: "Tetaplah engkau di tempatmu ini. Jangan berpindah - yakni meninggalkan tempat itu, sampai saya datang padamu nanti." Beliau s.a.w. berangkat dalam malam yang kelam itu sampai tertutup dari pandangan. Kemudian saya mendengar suara yang keras sekali, lalu saya merasa takut barangkali ada seseorang yang hendak berbuat jahat pada Nabi s.a.w. Saya ingin hendak mendatanginya, tetapi saya ingat akan sabdanya: "Janganlah engkau meninggalkan tempat ini sampai saya datang padamu." Oleh kerana itu saya tidak meninggalkan tempat itu sehingga beliau s.a.w. datang padaku. Kemudian saya berkata: "Saya telah mendengar suatu suara yang saya merasa ketakutan padanya," lalu saya ingatkan bunyi suara itu pada beliau. Selanjutnya beliau bersabda: "Adakah engkau mendengarnya?" Saya menjawab: "Ya." Beliau lalu bersabda: "Itu tadi adalah suara Jibril yang datang padaku, lalu ia berkata: "Barangsiapa yang meninggal dunia dari ummatmu, yang tidak menyekutukan sesuatu dengan Allah, maka ia akan masuk syurga." Saya bertanya: "Sekalipun ia berzina dan sekalipun ia mencuri?" Beliau menjawab: "Sekalipun ia berzina dan sekalipun ia mencuri." (Muttafaq 'alaih)

Hadis ini adalah lafaznya Imam Bukhari.


464. Dari Abu Hurairah r.a., dari Rasulullah s.a.w., sabdanya: "Andaikata saya memiliki emas sebanyak gunung Uhud, nescaya saya tidak senang kalau berjalan sampai lebih dari tiga hari, sedangkan di sisiku masih ada emas itu sekalipun sedikit,kecuali kalau yang sedikit tadi saya sediakan untuk memenuhi hutang - yang menjadi tanggunganku. (Muttafaq 'alaih)

465. Dari Abu Hurairah r.a. pula, katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda:

"Lihatlah kepada orang yang tarafnya ada di bawahmu semua dan janganlah melihat orang yang tarafnya ada di atasmu semua - dalam hal keduniaan. Sebab yang sedemikian itu lebih nyata bahawa engkau semua tidak akan menghinakan kenikmatan yang dilimpahkan atasmu semua itu." (Muttafaq 'alaih)

Ini adalah lafaznya Imam Muslim.

Ada pun dalam riwayat Bukhari ialah: Rasulullah s.a.w. bersabda:

"Jikalau seseorang dari engkau semua melihat pada orang yang dilebihkan daripada dirinya sendiri - oleh Allah - dalam hal keduniaan dan keindahan rupa, maka hendaklah memerhatikan saja kepada orang yang keadaannya lebih bawah daripadanya."


466. Dari Abu Hurairah r.a. pula dari Nabi s.a.w., sabdanya: "Binasalah - yakni celakalah - orang yang menjadi hambanya dinar - emas - dan dirham - perak, beludru sutera serta pakaian.

Jikalau ia diberi itu relalah hatinya dan jikalau tidak diberi, maka tidaklah rela - maksudnya ialah amat sangat tamaknya. (Riwayat Bukhari)


467. Dari Abu Hurairah r.a. pula katanya: "Saya benar-benar telah melihat tujuh puluh orang dari ahlus-shuffah - orang-orang Islam yang fakir-miskin, [48] tidak seorangpun dari mereka yang mengenakan selendang, ada kalanya bersarung dan ada kalanya berbaju. Mereka mengikatkan pada lehernya masing-masing. Di antaranya ada pakaiannya itu hanya sampai pada setengah dari kedua betisnya dan di antaranya ada pula yang sampai di kedua mata kakinya, lalu dikumpulkannyalah dengan tangannya kerana tidak suka terlihat auratnya." (Riwayat Bukhari)


468. Dari Abu Hurairah r.a. pula, katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda:

"Dunia ini adalah penjara bagi orang mu'min - kalau dibandingkan dengan kenikmatan yang disediakan di syurga - dan syurga bagi orang kafir - kalau dibandingkan dengan pedihnya. siksa di neraka." (Riwayat Muslim)


469. Dari Ibnu Umar radhiallahu 'anhuma.katanya: "Rasulullah s.a.w. menepuk kedua belikatku, lalu bersabda:

"Jadilah engkau di dunia ini seolah-olah engkau orang gharib yakni orang yang sedang berada di negeri orang dan tentu akan kembali ke negeri asalnya - atau sebagai orang yang menyeberangi jalan - yakni amat sebentar sekali di dunia ini."

Ibnu Umar berkata: "Jikalau engkau di waktu petang, maka janganlah menantikan waktu pagi dan jikalau engkau di waktu pagi, maka janganlah menantikan waktu petang - untuk beramal baik itu, ambillah kesempatan sewaktu engkau sihat untuk masa sakitmu, sewaktu engkau masih hidup untuk masa matimu." (Riwayat Bukhari)

Para alim-ulama mengatakan dalam syarahnya Hadis ini: "Erti-nya ialah: Janganlah engkau terlampau cinta pada dunia, jangan pula dunia itu dianggap sebagai tanahair, juga janganlah engkau mengucapkan dalam hatimu sendiri bahawa engkau akan lama kekalmu di dunia itu. Selain itu janganlah pula amat besar perhatianmu padanya, jangan tergantung padanya, sebagaimana orang yang bukan di negerinya tidak akan menggantungkan diri pada negeri orang yakni yang bukan tanahairnya sendiri. Juga janganlah bekerja di dunia itu, sebagaimana orang yang bukan di negerinya tidak akan berbuat sesuatu di negeri orang tadi - yakni yang diperbuat hendaklah yang baik-baik saja supaya meninggalkan nama harum di negeri orang, kerana pasti ingin kembali ke tempat keluarganya semula. Wa billa hit taufiq.

Keterangan:

Seorang asing atau seorang perantau itu, sekali pun berapa saja lamanya di negeri orang, ia tetap tidak bertanahair di tempat yang didiami itu. Kalau orang itu bijaksana, tentu kegiatan bekerjanya ditujukan untuk mencari bekal yang akan dibawa ke tanahairnya kembali, sehingga hidupnya di negeri asalnya itu tidak mengalami kekecewaan dan tidak mengalami kekurangan sesuatu apa pun, sebab telah dipersiapkan seluruhnya.

Nabi Muhammad s.a.w. menasihati kita manusia yang masih hidup di dunia sekarang ini, hendaknya beranggapan sebagai orang asing atau perantau yang bijaksana tadi. Dengan demikian tidak hanya sekadar untuk makan minum saja yang giat kita usahakan, tetapi bekal untuk kembali ke kampung akhirat itulah yang wajib lebih diutamakan. Bekal untuk perjalanan yang jauh ke tanahair akhirat itu tidak ada lain kecuali memperbanyak amalan yang shalih, menjalankan semua perintah Allah dan menjauhi semua laranganNya.

Adapun maksud ucapan Ibnu Umar anhuma itu ialah supaya segera-segeralah kita melakukan amal-amal yang baik, jangan ditunda-tunda waktunya. Kalau waktu pagi, jangan menunggu sampai petang hari dan kalau waktu petang jangan menunggu sampai pagi hari, sebab kematian itu datangnya dapat sekonyong-konyong. Demikian pula di saat badan sihat, jangan memperlambat-lambatkan untuk beramal shalih, sebab sakit itu dapat mendatangi kita sewaktu-waktu. Juga selagi masih hidup ini segeralah giat-giat berbuat kebajikan, sebab mati itupun dapat juga mendadak, tanpa memberikan tanda-tanda apapun.

Kini yang perlu kita perhatikan ialah:

(a)   Dunia fana ini jangan sampai dianggap sebagai tempat kediaman yang abadi, agar kita tidak lengah untuk mencari bekal guna kebahagiaan kita di akhirat.

(b)   Ini tidak bererti bahawa untuk kebahagiaan kita di dunia harus diabaikan, tetapi antara dua kepentingan itu wajib kita laksanakan bersamaan. Masing-masing sama dikejar menurut waktunya sendiri-sendiri. Jadi di waktu datang kewajiban ibadat jangan sekali-kali digunakan mengejar duit atau sebaliknya.

(c) Mencintai harta benda duniawiyah jangan melampaui batas, hingga menjadi kikir untuk melakukan kesosialan. Ingatlah bahawa semua yang kita cintai itu pada suatu ketika pasti akan kita tinggalkan, sedangkan harta benda itu nantinya menjadi milik orang lain dan tidak mustahil akan dibuat perbalahan di kalangan anak dan cucu. Perbanyaklah amal shalih sedapat mungkin dengan harta yang kita miliki itu.


470. Dari Abu Abbas, iaitu Sahal bin Sa'ad as-Sa'idi r.a., katanya: "Ada seorang lelaki datang kepada Nabi s.a.w., lalu berkata: "Ya Rasulullah, tunjukkanlah padaku sesuatu amalan yang apabila amalan itu saya lakukan, maka saya akan dicintai oleh Allah dan juga dicintai oleh seluruh manusia." Beliau s.a.w. bersabda: "Berzuhudlah di dunia, tentu engkau dicintai oleh Allah dan berzuhudlah dari apa yang dimiliki oleh para manusia, tentu engkau akan dicintai oleh para manusia."

Hadis hasan yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan lain-lainnya dengan isnad-isnad yang baik.


471. Dari an-Nu'man bin Basyir radhiallahu 'anhuma, katanya: "Umar bin Alkhaththab r.a. menyebut-nyebutkan apa yang telah didapatkan oleh orang banyak dari hal dunia, lalu katanya: "Sungguh saya melihat Rasulullah s.a.w. mengkerut pada hari ini, beliau tidak mendapatkan kurma yang bermutu rendah pun untuk mengisi perutnya." (Riwayat Muslim)

Addaqal dengan fathahnya dal muhmalah dan qaf, ertinya ialah kurma yang bermutu rendah.


472. Dari Aisyah radhiallahu 'anha, katanya: "Rasulullah s.a.w. wafat, sedang di rumahku tidak ada sesuatu apapun yang dapat dimakan oleh seseorang yang berhati - maksudnya oleh manusia yang hidup, melainkan sedikit gandum yang ada di rak ku. Kemudian saya makan daripadanya sampai lama halku sedemikian itu, kemudian saya takarlah itu lalu habislah." (Muttafaq 'alaih)

Ucapannya: Syathru sya'irin itu ertinya sedikit sekali dari gandum itu, demikianlah yang ditafsirkan oleh Imam Tirmidzi.


473. Dari 'Amr bin al-Harits, iaitu saudaranya Juwairiyah binti al-Harits Ummul mu'minin radhiallahu 'anhuma-jadi isterinya Nabi s.a.w., katanya: "Rasulullah s.a.w. tidak meninggalkan dirham, tidak pula dinar, hamba sahaya lelaki ataupun perempuan, atau apa pun juga ketika wafatnya, melainkan hanyalah keledai putihnya yang dahulu dinaikinya, juga senjatanya, serta sebidang tanah yang dijadikan sebagai sedekah kepada ibnus sabil - orang yang dalam perjalanan." (Riwayat Bukhari)

474. Dari Khabab bin al-Aratti r.a., katanya: "Kita semua berhijrah bersama Rasulullah s.a.w. untuk mencari keredhaan Allah Ta'ala, maka jatuhlah pahala kita itu atas Allah Ta'ala. Lalu di antara kita ada yang mati dan tidak pernah memperolehi sesuatupun dari pahalanya itu - tetaptah - yakni tidak pernah sampai memperolehi harta rampasan. Di antara mereka itu ialah Mus'ab bin Umair r.a. yang dibunuh pada hari perang Uhud dan meninggalkan selembar baju lurik - seperti singa. Apabila bajunya itu kita tutupkan pada kepalanya, maka tampaklah kedua kakinya, dan apabila kita tutupkan pada kedua kakinya, maka tampak kepalanya. Kemudian Rasulullah s.a.w. menyuruh kita, supaya kita tutupkan saja pada kepalanya, sedang di kedua kakinya kita letakkan saja sedikit tumbuh-tumbuhan idzkhir - semacam tumbuh-tumbuhan harum baunya. Di antara kita lagi ada yang sudah masak buahnya, maka dapatlah ia memetik hasilnya itu - maksudnya dapat menjadi baik nasibnya kerana kaum Muslimin mendapatkan kejayaan di mana-mana (Muttafaq 'alaih)

Annamirah ialah pakaian yang berwarna, terbuat dari bulu, Aina'at ertinya sudah matang dan masak. Yahdibuha dengan fathahnya ya' dan dhammahnya dal atau boleh juga dal itu dikasrahkan jadi ada dua lughat untuk ini, ertinya memetik dan menuainya. Ini adalah kata pinjaman bahawa Allah mengurniakan kaum Muslimin itu dapat memperolehi kelapangan dari hal keduniaan dan menetaplah kenikmatan mereka itu di dunia.


475. Dari Sahal bin Sa'ad as-Sa'idi r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda:

"Andaikata dunia ini di sisi Allah dianggap menyamai - nilainya - dengan selembar sayap nyamuk, nescayalah Allah tidak akan memberi minum seteguk air pun kepada orang kafir daripadanya."

Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan ia mengatakan bahawa ini adalah Hadis shahih.

Maksudnya: Andaikata dunia ini bagi Allah dianggap masih ada nilainya sekali pun amat rendah, tentu orang kafir tidak akan diberi kenikmatan yang sekecil-kecilnya pun di dunia ini. Tetapi oleh sebab dianggap oleh Allah tidak berharga sama sekali, maka banyak saja orang kafir yang berlebih-lebihan rezekinya.

476. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: "Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda:

"Ingatlah, sesungguhnya dunia itu dilaknat, dilaknat pula segala sesuatu yang ada di dalamnya, melainkan berzikir kepada Allah dan apa-apa yang menyamainya, juga orang yang alim serta orang yang menuntut ilmu."

Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan ia mengatakan bahawa ini adalah Hadis hasan.

Keterangan:

Mal'uunah, ertinya dilaknati, yakni dibenci dan rendah nilainya di sisi Allah. Jadi seluruh dunia dan seisinya ini menurut Hadis di atas adalah terlaknat, selain berzikir dan yang menjurus ke arah mengingat kepada Allah, misalnya ketaatan yang dapat menyampaikan diri kepada keredhaanNya. Tetapi kita jangan sekali-kali salah faham, iaitu dengan adanya keterangan dilaknat itu lalu kita mencaci-maki hal-hal keduniawiyah dan membencinya secara mutlak. Tetapi hendaknya kita ingat pula bahawa yang dimaksudkan itu adalah yang menyebabkan menjauhkan diri dari ketaatan kepada Allah Ta'ala atau pun yang melalaikan kita, sehingga lupa kepada hal-hal keakhiratan. Ayat-ayat dan Hadis-hadis yang menjelaskan persoalan untuk giat mencari kebahagiaan di dunia itu banyak sekali.

Demikian pula Hadis yang di bawahnya, agar kita jangan terpengaruh dengan banyaknya tanah yang kita miliki. Ini pun sejiwa dengan yang di atas, yakni memiliki banyak boleh saja, asalkan jangan sampai mencintainya melebihi dari soal-soal keakhiratan, sampai-sampai lupa kepada ajaran agama kerana terpesona dengan banyaknya harta benda.

477. Dari Abdullah bin Mas'ud r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda:

"Janganlah engkau semua terlampau cinta dalam mencari sesuatu untuk kehidupan, sebab dengan terlampau mencintainya itu, maka engkau semua akan mencintai pula keduniaan."

Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan ia mengatakan bahawa ini adalah Hadis hasan.


478. Dari Abdullah bin 'Amr bin al'Ash radhiallahu 'anhuma, katanya: "Rasulullah s.a.w. berjalan melalui kita dan kita saat itu sedang mengerjakan perbaikan rumah, lalu beliau s.a.w. bersabda: "Apa ini?" Kita menjawab: "Rumah ini telah lemah - rosak, maka itu kita memperbaikinya." Beliau s.a.w. bersabda: "Saya tidak mengerti akan perkara ajal, melainkan akan lebih cepat datangnya dari selesainya perbaikan ini."

Diriwayatkan oleh Imam-imam Abu Dawud dan Tirmidzi dengan isnadnya Imam-imam Bukhari dan Muslim dan Imam Tirmidzi mengatakan bahawa ini adalah Hadis hasan shahih.


479. Dari Ka'ab bin 'lyadh r.a., katanya: "Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda:

"Sesungguhnya setiap ummat itu ada fitnahnya dan fitnah ummatku ialah harta."

Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan ia mengatakan bahawa ini adalah Hadis hasan shahih.

480. Dari Abu 'Amr, ada yang mengatakan Abu Abdillah, ada pula yang mengatakan Abu Laila iaitu Usman bin Affan r.a. bahawasanya Nabi s.a.w. bersabda:

"Tidak ada hak apapun bagi anak Adam - yakni manusia - selain dari perkara-perkara ini, iaitu rumah yang menjadi tempat kediamannya, pakaian yang digunakan untuk menutupi auratnya dan roti tawar - tanpa lauk - beserta air."

Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan ia mengatakan bahawa ini adalah Hadis hasan shahih.

Imam Tirmidzi berkata: "Saya mendengar Abu Dawud iaitu Sulaiman bin Aslam al-Balkhi berkata: "Saya mendengar an-Nadhr bin Syumail, katanya: Aljilfu itu ialah roti tanpa lauk." Lainnya lagi berkata: "Iaitu roti yang kasar," sedang Alharawi berkata: "Yang dimaksudkan di sini ialah wadah roti seperti juwatik dan khurj." Wallahu a'lam.


481. Dari Abdullah bin as-Sikhkhir - dengan kasrahnya sin dan kha' yang disyaddahkan serta mu'jamah keduanya r.a., bahawasanya ia berkata: "Saya datang kepada Nabi s.a.w. dan beliau sedang membaca ayat - yang ertinya: "Engkau semua dilalaikan oleh perlumbaan memperbanyakkan kekayaan." Lalu beliau bersabda: "Anak Adam itu berkata: "Hartaku, hartaku! Padahal harta yang benar-benar menjadi milikmu itu, hai anak Adam, ialah apa-apa yang engkau makan lalu engkau habiskan, apa-apa yang engkau pakai, lalu engkau rosakkan atau apa-apa yang engkau sedekahkan lalu engkau lampaukan - dengan tetap adanya pahala." (Riwayat Muslim)


482. Dari Abdullah bin Mughaffal r.a., katanya: "Ada seorang lelaki berkata kepada Nabi s.a.w.: "Ya Rasulullah, demi Allah, sesungguhnya saya ini nescaya cinta kepada Tuan." Beliau lalu bersabda: "Lihatlah baik-baik apa yang engkau ucapkan itu."Orang itu berkata lagi: "Demi Allah, sesungguhnya saya ini nescayalah cinta kepada Tuan." Dia berkata demikian sampai tiga kali. Kemudian beliau s.a.w. bersabda: "Jikalau engkau mencintai saya, maka sediakanlah sebuah baju tijfaf untuk menempuh kefakiran, sebab sesungguhnya kefakiran itu lebih cepat mengenai orang yang mencintai saya daripada cepatnya air banjir sampai di tempat penghabisannya."

Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan ia mengatakan bahawa ini adalah Hadis hasan.

Attijfaf dengan kasrahnya ta' mutsannat dan sukunnya jim dan dengan fa' yang dirangkapkan iaitu sesuatu yang dikenakan pada kuda untuk menjaga dirinya dari bahaya - senjata dan lain-lain, dan kadang-kadang pakaian sedemikian itu juga dikenakan oleh manusia.

Keterangan:

Mungkin kita akan merasakan suatu keanehan pada sabda Rasulullah s.a.w. kepada orang yang menyatakan cintanya kepada beliau, lalu beliau bersabda supaya orang itu bersiap-siap mengenakan baju kefakiran. Mengapa demikian dan apakah ada di balik sabda beliau itu yang sebenarnya?

Kita wajib ingat bahawa orang yang menyatakan dirinya kepada Nabi s.a.w., baik orang di zaman sahabat dahulu ataupun di zaman kita ini, bererti ia merasa ikut bertanggungjawab menyebarluaskan agama yang benar yakni Islam yang dibawa olehnya, bersedia berkorban, sanggup menderita dalam menghadapi siapapun yang hendak menghalang-halangi perkembangan agama itu. Untuk berkorban itu, bukan hanya berupa omongan yang keluar dari bibir yang tak bertulang, tetapi wajib disertai dengan perbuatan, dengan menginfakkan dan membelanjakan harta, menyumbangkan tenaga dan fikiran dan bila mana diperlukan berjihad pun suka mengikutinya. Jadi bukan sebaliknya, misalnya mengakukan dirinya mencintai Nabi s.a.w., namun perbuatannya jauh bertentangan dengan ajaran yang dibawa oleh Islam.

Kerana itu, jikalau benar-benar mencintai Nabi, pengabdian dan pengorbanan wajib ada. Orang yang bersikap demikian itulah yang dimaksudkan oleh beliau s.a.w. supaya menyiapkan diri untuk mengenakan baju tijfaf liifaqri sebagaimana yang tercantum dalam Hadis di atas. Wallahu a'lam.

483. Dari Ka'ab bin Malik r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda:

"Tidaklah dua ekor serigala yang lapar yang dikirimkan ke tempat kambing itu lebih berbahaya padanya daripada tamaknya seseorang itu pada harta dan kemegahan dalam membahayakan agamanya,"

Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan ia mengatakan bahawa ini adalah Hadis hasan shahih.


484. Dari Abdullah bin Mas'ud r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. tidur di atas selembar tikar, lalu bangun sedang di lambungnya nampak bekas tikar itu. Kami berkata: "Ya Rasulullah, alangkah baiknya kalau kita ambilkan saja sebuah kasur untuk Tuan." Beliau bersabda: "Apakah untukku ini dan apa pula untuk dunia -maksudnya: bagaimana saya akan senang pada dunia ini. Saya di dunia ini tidaklah lain kecuali seperti seorang yang mengendarai kenderaan yang bernaung di bawah pohon, kemudian tentu akan pergi dan meninggalkan pohon itu."

Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan ia mengatakan bahawa ini adalah Hadis hasan shahih.


485. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda:

"Orang-orang fakir itu akan masuk syurga sebelum orang-orang kaya dengan selisih waktu lima ratus tahun."

Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan ia mengatakan bahawa ini adalah Hadis hasan shahih.

486. Dari Ibnu Abbas dan Imran bin Hushain radhiallahu 'anhum dari Nabi s.a.w., sabdanya:

"Saya telah menjenguk dalam syurga, maka saya melihat bahawa sebahagian banyak penghuninya adalah kaum fakir dan saya juga telah menjenguk dalam neraka, maka saya melihat bahawa sebahagian banyak penghuninya adalah para wanita."

Muttafaq 'alaih dari riwayat Ibnu Abbas. Imam Bukhari meriwayatkan pula dari riwayatnya Imran bin Hushain.

487. Dari Usamah bin Zaid, radhiallahu 'anhuma dari Nabi s.a.w. sabdanya:

"Saya berdiri di pintu syurga, maka sebahagian besar orang yang memasukinya itu ialah orang-orang miskin, sedang orang-orang yang kaya - berharta - semua ditahan dulu, hanya saja orang-orang yang menjadi ahli neraka telah diperintah untuk dimasukkan dalam neraka seluruhnya." (Muttafaq 'alaih)

Aljaddu ialah bahagian harta dan kekayaan, Hadis ini telah lalu keterangannya dalam bab: Keutamaan kaum lemah.

488. Dari Abu Hurairah r.a. dari Nabi s.a.w., sabdanya: "Setepat-tepatnya kalimat yang diucapkan oleh seseorang syair ialah ucapan Labid - yang ertinya: "Ingatlah, semua benda yang selain Allah adalah batil - atau rosak dan tidak kekal." (Muttafaq 'alaih)

Lanjutan dari sya'ir di atas ialah:

"Dan setiap kenikmatan itu pasti akan hilang yakni tidak kekal."

Jadi yang disabdakan oleh Nabi s.a.w. hanyalah separuh bait yang pertama, sedang yang lanjutannya tidak. Sebabnya ialah kerana ada sesuatu kenikmatan yang tetap kekal, iaitu kenikmatan yang akan diperolehi ahli syurga, apabila mereka telah berada di dalamnya. Kenikmatan di situ kekal abadi dan tidak akan lenyap sampai bila pun juga.

Nota kaki:

Di zaman Nabi s.a.w. mereka itu sama berkumpul dan berdiam di serambi belakang masjid Madinah.



BAB 49-51

Terjemahan Riyadhus Shalihin

BAB 49-51
( بِسْمِ الله الرحمَنِ الحيمِ )

Riyadhus Shalihin

۞ BAB 49 ۞

Menjalankan Hukum-hukum Terhadap Manusia Menurut  Lahirnya,  Sedang Keadaan  Hati  Mereka Terserah Allah Ta'ala

Allah Ta'ala berfirman:

"Maka jikalau orang-orang itu bertaubat dan mendirikan shalat serta menunaikan zakat, maka bebaskanlah jalannya - yakni merdekakanlah menurut kemahuan hatinya." (at-Taubah: 5)

389. Dari Ibnu Umar radhiallahu 'anhuma bahawasanya Rasulullah s.a.w. bersabda:

"Saya diperintah untuk memerangi semua manusia, sehingga mereka suka menyaksikan bahawa tiada Tuhan kecuali Allah dan bahawasanya Muhammad adalah pesuruh Allah dan mendirikan shalat serta menunaikan zakat. Maka jikalau mereka telah melakukan yang sedemikian itu, terpeliharalah daripadaku darah serta harta benda mereka, melainkan dengan haknya Islam, sedang hisab - perhitungan amal - mereka adalah terserah kepada Allah Ta'ala. (Muttafaq 'alaih)

390. Dari Abu Abdillah iaitu Thariq bin as-Syam r.a., katanya: "Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda:

"Barangsiapa yang mengucapkan La ilaha illallah dan kafir mengingkari - dengan sesuatu yang disembah selain daripada Allah, maka haramlah harta benda serta darahnya, sedang hisabnya adalah terserah kepada Allah." (Riwayat Muslim)

391. Dari Abu Ma'bad iaitu al-Miqdad bin al-Aswad r.a., katanya: "Saya berkata kepada Rasulullah s.a.w.: "Bagaimanakah pendapat Tuan, jikalau saya bertemu seseorang dari golongan kaum kafir, kemudian kita berperang, lalu ia memukul salah satu dari kedua tanganku dengan pedang dan terus memutuskannya. Selanjutnya ia bersembunyi daripadaku di balik sebuah pohon, lalu ia mengucapkan: "Saya masuk Agama Islam kerana Allah," apakah orang yang sedemikian itu boleh saya bunuh, ya Rasulullah sesudah ia mengucapkan kata-kata seperti tadi itu?" Beliau s.a.w. menjawab: "Jangan engkau membunuhnya." Saya berkata lagi: "Ia sudah memutuskan salah satu tangan saya, kemudian mengucapkan sebagaimana di atas itu setelah memutuskannya." Rasulullah s.a.w.  bersabda lagi: "Jangan engkau membunuhnya, kerana jikalau  engkau membunuhnya, maka ia adalah menempati tempatmu sebelum engkau membunuhnya dan sesungguhnya engkau adalah di  tempatnya sebelum ia mengucapkan kata-kata yang diucapkannya itu." (Muttafaq 'alaih)

      Maknanya innahu bimanzilatika: sesungguhnya ia di tempatmu  ialah bahawa orang itu harus dipelihara darahnya sebab telah  dihukumi sebagai orang Islam. Adapun maknanya innaka biman zilatihi: sesungguhnya engkau di tempatnya ialah bahawa halal  darahnya dengan qishash untuk para ahli warisnya, bukan kerana ia  dalam kedudukannya sebagai orang kafir. Wallahu a'lam.'

        392. Dari Usamah bin Zaid radhiallahu 'anhuma, katanya: "Rasulullah s.a.w. mengirim kita ke daerah Huraqah dari suku Juhainah, kemudian kita berpagi-pagi menduduki tempat air mereka. Saya dan seorang lagi dari kaum Anshar bertemu dengan seseorang lelaki dari golongan mereka - musuh. Setelah kita dekat padanya, ia lalu mengucapkan: La ilaha illallah. Orang dari sahabat Anshar itu menahan diri daripadanya - tidak menyakiti sama sekali, sedang saya lalu menusuknya dengan tombakku sehingga saya membunuhnya.

  Setelah kita datang - di Madinah, peristiwa itu sampai kepada Nabi s.a.w., kemudian beliau bertanya padaku: "Hai Usamah, adakah engkau membunuhnya setelah ia mengucapkan La ilaha illallah?" Saya berkata: "Ya Rasulullah, sebenarnya orang itu hanya untuk mencari perlindungan diri saja - yakni mengatakan syahadat itu hanya untuk mencari selamat, sedang hatinya tidak meyakinkan itu." Beliau s.a.w. bersabda lagi: "Adakah ia engkau bunuh setelah mengucapkan La ilaha illallah?" Ucapan itu sentiasa diulang-ulangi oleh Nabi s.a.w., sehingga saya mengharap-harapkan, bahawa saya belum menjadi Islam sebelum hari itu - yakni bahawa saya mengharapkan menjadi orang Islam itu mulai hari itu saja, supaya tidak ada dosa dalam diriku." (Muttafaq 'alaih)

      Dalam riwayat lain disebutkan: Lalu Rasulullah s.a.w. bersabda: "Bukankah ia telah mengucapkan La ilaha illallah, mengapa engkau membunuhnya?" Saya menjawab: "Ya Rasulullah, hanyasanya ia mengucapkan itu semata-mata kerana takut senjata." Beliau s.a.w. bersabda: "Mengapa engkau tidak belah saja hatinya, sehingga engkau dapat mengetahui, apakah mengucapkan itu kerana takut senjata atau kah tidak - yakni dengan keikhlasan." Beliau s.a.w. mengulang-ulangi ucapannya itu sehingga saya mengharap-harapkan bahawa saya masuk Islam mulai hari itu saja.

393. Dari Jundub bin Abdullah r.a. bahawasanya Rasulullah s.a.w. mengirimkan sepasukan dari kaum Muslimin kepada suatu golongan dari kaum musyrikin dan bahawa mereka itu telah bertemu -  berhadap-hadapan. Kemudian ada seseorang lelaki dari kaum musyrikin jikalau menghendaki menuju kepada seorang dari kaum Muslimin  lalu   ditujulah   tempatnya  lalu  dibunuhnya.   Lalu   ada seorang dari kaum Muslimin menuju orang itu di waktu lengahnya. Kita semua memperbincangkan bahawa orang itu adalah Usamah bin Zaid. Setelah orang Islam itu mengangkat pedangnya, tiba-tiba orang musyrik tadi mengucapkan: "La ilaha illallah." Tetapi ia terus dibunuh olehnya. Selanjutnya datanglah seorang pembawa berita gembira kepada Rasulullah s.a.w. - memberitahukan kemenangan, beliau s.a.w. bertanya kepadanya - perihal jalannya peperangan - dan orang itu memberitahukannya, sehingga akhirnya orang itu memberitahukan pula perihal orang yang membunuh di atas, apa-apa yang dilakukan olehnya. Orang itu dipanggil oleh beliau s.a.w. dan menanyakan padanya, lalu sabdanya: "Mengapa engkau membunuh orang itu?" Orang tadi menjawab: "Ya Rasulullah, orang itu telah banyak menyakiti di kalangan kaum Muslimin dan telah membunuh si Fulan dan si Fulan." Orang itu menyebutkan nama beberapa orang yang dibunuhnya. Ia melanjutkan: "Saya menyerangnya, tetapi setelah melihat pedang, ia mengucapkan: "La ilaha illallah." Rasulullah s.a.w. bertanya: "Apakah ia sampai kau bunuh?" Ia menjawab: "Ya." Kemudian beliau bersabda: "Bagaimana yang hendak kau perbuat dengan La ilaha illallah, jikalau ia telah tiba pada hari kiamat?" Orang itu berkata: "Ya Rasulullah, mohonkanlah pengampunan - kepada Allah - untukku." Rasulullah s.a.w. bersabda: "Bagaimana yang hendak kau perbuat dengan La ilaha illallah, jikalau ia telah tiba pada hari kiamat?" Beliau s.a.w. tidak menambahkan sabdanya lebih dari kata-kata: "Bagaimanakah yang hendak kau perbuat dengan La ilaha illallah, jikalau ia telah tiba pada hari kiamat?" (Riwayat Muslim)

394. Dari Abdullah bin Utbah bin Mas'ud, katanya: "Saya mendengar Umar bin Alkhaththab r.a. bersabda: "Sesungguhnya sekalian manusia itu dahulu diterapi dengan hukum sesuai dengan adanya wahyu yakni di zaman Rasulullah s.a.w., dan sesungguhnya wahyu itu kini telah terputus - tidak datang lagi, sebab Nabi s.a.w. telah wafat. Maka hanyasanya kami - Umar r.a. - menuntut engkau semua dengan dasar apa yang nampak pada kami iaitu mengenai perbuatan-perbuatan yang engkau semua lakukan. Jadi barangsiapa yang menampakkan perbuatan baik pada kami, maka kami berikan keamanan dan kami dekatkan kedudukannya pada kami, sedang urusan apa yang dalam hatinya tidak sedikitpun kami persoalkan, kerana Allah akan menghisabnya dalam hal isi hatinya itu. Tetapi barangsiapa yang menampakkan kelakuan buruk pada kami, maka kami tidak akan memberikan keamanan padanya dan tidak akan percaya ucapannya, sekalipun ia mengatakan bahawasanya niat hatinya adalah baik." (Riwayat Bukhari)

Nota kaki:

Keterangannya harap diperiksa dalam Hadis no. 232.
_______
۞ BAB 50 ۞

Takut — Kepada Allah Ta'ala

Allah Ta'ala berfirman:

"Dan kepadaKu, maka takutlah engkau semua!" (al-Baqarah: 40)

Allah Ta'ala berfirman pula:

"Sesungguhnya tindakan siksaan Tuhannya itu adalah sangat dahsyatnya." (al-Buruj: 12)

Allah Ta'ala juga berfirman:

"Dan demikianlah tindakan Tuhanmu jikalau menindak kepada penduduk negeri, yang mereka itu melakukan kezaliman, sesungguhnya tindakan penghukuman Allah itu adalah amat pedih dan keras. Sesungguhnya hal yang sedemikian itu niscaya merupakan keterangan untuk orang yang takut akan siksa hari akhir. Itulah hari yang seluruh manusia dikumpulkan dan itulah pula hari yang disaksikan. Tidaklah Kami akan mengundurkan hari itu, melainkan sampai waktu yang ditentukan. Iaitu pada hari yang tidak seorang pun akan berbicara, melainkan dengan izinNya dan di antara para manusia itu ada yang celaka dan ada pula yang berbahagia. Adapun orang-orang yang celaka, maka tempatnya adalah dalam neraka. Mereka di situ menarik nafas panjang dan mengerang." (Hud: 102-106)

Allah Ta'ala berfirman lagi:

"Dan Allah memperingatkan engkau semua akan kewajipanmu terhadap Allah sendiri - supaya tidak terkena siksanya." (ali-lmran: 28)

Juga Allah Ta'ala berfirman:

"Pada hari seseorang manusia lari meninggalkan saudaranya, ibu dan ayahnya, juga isteri dan anak-anaknya. Setiap seseorang pada hari itu mempunyai urusan yang membuat diri sendiri sibuk - dari urusan orang lain." (Abasa: 34-37)

Allah Ta'ala berfirman lagi:

"Hai sekalian manusia, bertaqwalah kepada Tuhanmu, sesungguhnya pergoncangan hari kiamat itu adalah suatu peristiwa yang dahsyat. Pada hari itu engkau lihat perempuan yang menyusukan melupakan anak yang disusukannya, juga setiap perempuan yang mengandung melahirkan kandungan-kandungannya; engkau lihat pula seluruh manusia itu dalam keadaan mabuk, tetapi mereka itu sebenarnya tidaklah mabuk, meiainkan siksa Allah jualah yang sangat hebatnya." (al-Haj: 1-2)

Allah Ta'ala juga berfirman:

"Dan orang yang takut di waktu berdiri di hadapan Tuhannya,ia akan memperoleh dua buah taman syurga." (ar-Rahman: 46)

Allah Ta'ala berfirman lagi:

"Dan para ahli syurga setengahnya berhadap-hadapan dengan setengahnya sambil saling tanya menanyakan. Mereka berkata: "Sesungguhnya kita pada masa dahulu - ketika di dunia - merasa takut terhadap keluarga kita. Tetapi Allah mengurniakan kepada kita dan melindungi kita dari siksa angin yang amat panas. Sesungguhnya kita bermohon kepadaNya sejak saat sebelum ini, sesungguhnya Allah adalah Maha Pemberi kurnia lagi Maha Penyayang." (at-Thur: 25-28)

Ayat-ayat dalam bab ini amat banyak sekali dan dapat dimaklumi, sedang tujuannya ialah untuk menunjukkan kepada bahagian yang lainnya - sebagai penjelasan - dan begitulah hasilnya.

395. Dari Ibnu Mas'ud r.a., katanya: "Kami diberitahu oleh Rasulullah s.a.w. dan ia adalah seorang yang benar lagi dapat dipercayai, sabdanya:

"Sesungguhnya seseorang di antara engkau semua itu dikumpulkan kejadiannya dalam perut ibunya selama empat puluh hari sebagai mani, kemudian merupakan segumpal darah dalam waktu empat puluh hari itu pula, selanjutnya menjadi sekerat daging dalam waktu empat puluh hari lagi. Selanjutnya diutuslah seorang malaikat, lalu meniupkan ruh dalam tubuhnya dan diperintah untuk menulis empat kalimat, iaitu mengenai catatan rezekinya, ajal serta amalnya dan apakah ia termasuk orang celaka atau pun bahagia. Maka demi Zat yang tiada Tuhan selain daripadaNya, sesungguhnya seseorang di antara engkau semua, nescayalah melakukan dengan amalan ahli syurga, sehingga tiada di antara dirinya dengan syurga itu melainkan hanya jarak sezira' - sehasta, tetapi telah didahului oleh catatan kitabnya, lalu ia melakukan dengan amalan ahli neraka, kemudian akhirnya masuklah ia dalam neraka itu. Dan sesungguhnya ada pula seseorang di antara engkau semua itu, nescaya mengamalkan dengan amalannya ahli neraka, sehingga tidak ada antara orang itu dengan neraka, melainkan hanya jarak sezira' saja, tetapi telah didahului oleh catatan kitabnya,- lalu ia mengamalkan dengan amalan ahli syurga dan akhirnya masuklah ia dalam syurga itu." (Muttafaq 'alaih)

Keterangan:

Dalam Hadis ini ada beberapa hal yang perlu kita maklumi, iaitu:

(a) Malak yang dikirimkan ini, memang diserahi oleh Allah untuk melihat rahim ibu anak itu sejak ia berupa mani. Di waktu ini malak itu berkata: "Wahai Tuhan, apa dijadikan terus apa tidak? Kalau tidak terus ditakdirkan oleh Allah menjadi manusia, lalu dijadikan darah kotor yang terlempar sia-sia. Tetapi apabila memang dikehendaki jadi, malak itu lalu berkata: "Wahai Tuhan, laki-lakikah atau perempuankah ini, bagaimana rezekinya, bila ajalnya, (waktu meninggalnya), bagaimana kelakuannya dan di bumi mana ia nanti meninggal (di kubur)." Allah lalu berfirman: "Pergilah ke Lauh Mahfuzh, akan engkau temui semuanya." Malak itu lalu naik ke atas Lauh Mahfuzh dan mencatat semuanya.

Jadi semua apa yang terjadi atas diri kita ini benar-benar telah digariskan oleh Allah menurut takdir yang dikehendaki. Tetapi kita tetap harus berusaha menjadi hamba Allah yang baik segala-galanya, sebab kita semua tentu tidak tahu takdir apa yang akan kita alami. Jadi marilah kita berusaha dan berikhtiar, sebab hanya di tangan Allahlah semua takdir itu.

Kembali ke atas, iaitu sesudah anak itu ditulis semua ketentuan-ketentuannya, lalu 40 hari jadi nuthfah, 40 hari 'alaqah dan 40 hari lagi berupa mudhghah, kemudian ditiupkan ruhnya. Selanjutnya ialah sebagaimana firman Allah dalam al-Quran:

"Lalu kami ubahlah mudhghah itu menjadi tulang-belulang, kemudian tulang-belulang itu kami beri daging, selanjutnya Kami lupakanlah suatu makhluk lain (yakni jadi manusia benar-benar). Maha Sucilah Allah itu, sebaik-baiknya Zat yang membuat."

(b) Yang meniupkan jiwa dalam tubuh manusia itu malak, tetapi ini tidak bererti bahawa malak yang memberi ruh kita, tetapi Allah jualah yang memberikan, hanya saja dengan tiupan malak itulah yang merupakan sebab musababnya manusia diberi ruh oleh Allah. Jadi tiupan ini hanyalah sebagai perantaraan belaka.

Adapun ruh itu adalah benda halus yang hanya Allah saja yang  Mengetahui akan keadaannya. Dalam al-Quran disebutkan:

"Dan orang-orang itu sama bertanya padamu (Muhammad) tentang halnya ruh. Katakanlah: "Ruh itu adalah dari urusan Tuhanku. Engkau semua ini tidak diberi pengetahuan oleh Allah melainkan hanya sedikit sekali."

(c) Empat kalimat ertinya empat ketentuan dari Allah.

(d) Maksudnya sehasta ialah kerana sangat dekat jaraknya.

Adapun Hadis-hadis yang menguraikan bab ini, maka amat banyak sekali pula. Maka dari itu kita akan menyebutkan sebahagian dari Hadis-hadis itu, dan dengan Allah jualah datangnya pertolongan.

396. Dari Ibnu Mas'ud r.a. pula, katanya: Rasulullah S.A.W bersabda:

"Pada hari kiamat itu yakni di saat seluruh hamba Allah sedang berdiri untuk dihisab atau diperhitungkan amalannya, didatangkanlah di Jahannam sebanyak tujuh puluh ribu kendali dan beserta setiap kendali ada tujuh puluh ribu malaikat yang sama menariknya." (Riwayat Muslim)

397. Dari an-Nu'man bin Basyir radhiallahu 'anhuma, katanya: "Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda:

"Sesungguhnya seringan-ringan siksa ahli neraka pada hari kiamat itu adalah seseorang yang di bahagian bawah kedua kakinya diletakkan dua buah bara api yang dengannya itu dapat mendidihlah otaknya. Orang itu tidak meyakinkan bahawa ada orang lain yang lebih sangat siksanya daripada dirinya sendiri-jadi ia mengira bahawa dirinya itulah yang mendapat siksa yang terberat, padahal orang itulah yang teringan sekali siksanya." (Muttafaq 'alaih)

398. Dari Samurah bin Jundub r.a. bahawasanya Nabiullah s.a.w. bersabda:

"Di antara para ahli neraka itu ada orang yang dijilat oleh api neraka sampai pada kedua tumitnya, di antara mereka ada yang dijilat oleh api sampai kedua lututnya, ada juga yang sampai ke empat ikat pinggangnya dan ada pula yang sampai di tulang lehernya." (Riwayat Muslim)

Alhuj-zah ialah tempat mengikat sarung yang ada di bawah pusat. Dan Attarquwah dengan fathah ta' dan dhammahnya qaf ialah tulang yang ada di tengah leher dan setiap manusia itu mempunyai dua buah tulang tarquwah ini yang terletak di tepi lehernya.

399.  Dari    Ibnu    Umar radhiallahu    'anhuma    bahawasanya Rasulullah S.A.W bersabda:

"Seluruh manusia akan berdiri di hadapan Tuhan Seru sekalian alam - yakni berdiri bangun dari masing-masing kuburnya untuk diadili dan dihisab atau diperhitungkan amalannya sewaktu di dunia - sehingga di antara engkau semua itu ada orang yang tenggelam kerana keringatnya sendiri sampai di pertengahan telinganya kerana dahsyatnya keadaan, berdesak-desak serta amat teriknya matahari di saat itu. (Muttafaq 'alaih)

400. Dari Anas r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. mengucapkan sebuah khutbah yang saya tidak pernah mendengar suatu khutbah pun seperti itu - kerana amat menakutkan. Beliau s.a.w. bersabda:

"Andaikata engkau semua dapat mengetahui apa yang dapat saya mengetahuinya, nescayalah engkau semua akan tertawa sedikit saja dan akan menangis banyak-banyak."

Para sahabat Rasulullah s.a.w. lalu menutupi masing-masing wajahnya sambil terdengar suara isaknya. (Muttafaq 'alaih)

Dalam riwayat lain disebutkan:

Rasulullah s.a.w. menerima berita bahawa ada sesuatu tentang sahabat-sahabatnya, lalu beliau berkhutbah, kemudian bersabda:

"Ditunjukkanlah syurga dan neraka padaku maka belum pernah saya melihat sesuatu yang melebihi penglihatanku pada hari itu tentang bagusnya syurga dan buruknya neraka. Dan andaikata engkau semua dapat melihat apa yang dapat saya lihat, maka nescayalah engkau semua akan ketawa sedikit dan menangis banyak-banyak."

Maka tidak pernah datang pada para sahabat Rasulullah s.a.w. laitu hari yang lebih dahsyat lagi dari hari itu - tentang ngerinya khutbah yang diberikan oleh beliau s.a.w. Para sahabat sama menutupi masing-masing kepalanya sambil terdengar suara esaknya.

Alkhanin dengan menggunakan kha' mu'jamah ialah tangis dengan dengungan serta timbulnya suara esakan dari hidung.

401. Dari al-Miqdad r.a., katanya: "Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda:

"Didekatkanlah matahari pada hari kiamat itu dari para makhluk hingga jarak matahari tadi adalah bagaikan kadar semil saja."

Sulaim bin 'Amir yang meriwayatkan Hadis ini dari al-Miqdad berkata: "Demi Allah, saya sendiri tidak mengerti apa yang dimaksudkan dengan kata mil itu, apakah ertinya itu jarak semil bumi atau kah mil yang ertinya alat untuk mengambil celak - dari tempatnya - guna celak mata."

Rasulullah s.a.w. bersabda seterusnya: "Maka keadaan manusia-manusia pada hari itu adalah menurut kadar masing-masing amalannya dalam banyak sedikitnya keringat - yang keluar dari badannya.

Di antara mereka ada yang berkeringat sampai di kedua tumitnya dan di antaranya ada yang sampai di kedua lututnya dan di antaranya ada pula yang sampai di tempat pengikat sarungnya yang ada di kedua lambungnya, bahkan di antaranya ada yang dikendalikan oleh keringat itu dengan sebenar-benarnya dikendalikan - yakni seperti kendali kuda iaitu keringat tadi sampai masuk ke mulut dan kedua telinganya." Ketika menyabdakan ini Rasulullah s.a.w. menunjuk dengan tangannya ke arah mulutnya." (Riwayat Muslim)

402. Dari Abu Hurairah r.a. bahawasanya Rasulullah s.a.w. bersabda:

"Para manusia sama berkeringat pada hari kiamat, sehingga keringatnya itu turun dalam bumi sedalam tujuh puluh hasta dan keringat itu mengendalikan mereka hingga mencapai ke telinga-telinga mereka - mengendalikan maksudnya sampai ke mulut dan telinga seperti kendali." (Muttafaq 'alaih)

Maknanya Yadzhabu fil-ardhi ialah turun dan menyelam.

403. Dari Abu Hurairah r.a. pula, katanya: "Kita semua bersama Rasulullah s.a.w., tiba-tiba terdengarlah suara benda yang jatuh keras, lalu beliau bersabda: "Adakah engkau semua mengetahui suara apakah ini?" Kita semua berkata: "Allah dan RasulNya yang lebih mengetahui." Beliau s.a.w. lalu bersabda: "Ini adalah batu yang di Iemparkan ke dalam neraka sejak tujuh puluh tahun yang lalu dan kini sudah sampai di dasar neraka itu. Maka dari itu engkau semua dapat mendengarkan suara jatuhnya." (Riwayat Muslim)

404. Dari 'Adi bin Hatim r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda:

"Tiada seorangpun dari engkau semua, melainkan akan diajak cara oleh Tuhannya, tidak ada antara ia dengan Tuhannya seorang penterjemah pun - perantara sebagai juru bahasanya. Orang itu lalu melihat ke arah kanannya, tetapi tidak ada yang dilihat olehnya, melainkan amalan yang telah ia lakukan dahulu saja - sebelum itu, dan ia melihat ke arah kirinya, maka tidak ada yang dilihat olehnya melainkan amalan yang ia lakukan dahulu saja,seterusnya ia melihat ke  arah mukanya, maka tidak ada yang dilihat olehnya melainkan neraka yang ada di hadapan mukanya itu. Maka dari itu, takutlah engkau semua pada siksa api neraka, sekalipun dengan jalan sedekah dengan belahan kurma." (Muttafaq 'alaih)

405. Dari Abu Zar r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Sesungguhnya saya itu dapat melihat apa yang engkau semua tidak dapat melihatnya. Langit bersuara dan memang sepatutnyalah jikalau ia bersuara, sebab tiada tempat terluang selebar empat jari di langit itu, melainkan tentu ada malaikatnya yang meletakkan dahinya sambil bersujud kepada Allah Ta'ala. Demi Allah, andaikata engkau semua dapat melihat apa yang dapat saya lihat, nescayalah engkau semua akan ketawa sedikit dan pasti akan menangis banyak-banyak, juga engkau semua tidak akan merasakan berlazat-lazat dengan para wanita di atas hamparan, bahkan nescayalah engkau semua akan ke luar ke jalan-jalan untuk memohonkan pertolongan kepada Allah Ta'ala."

Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan ia mengatakan bahawa ini adalah Hadis hasan.

Aththat dengan fathahnya hamzah dan syadahnya tha' dan taiththu dengan fathahnya ta' dan sesudahnya itu hamzah yang dikasrahkan, juga al-athithu, ialah suara sekedup atau tempat duduk di atas unta ataupun lain-lainnya. Maknanya ialah bahawasanya kerana banyak malaikat yang ada di langit yang sama beribadat itu telah menyebabkan langit itu merasa berat, sehingga bersuara tadi, sedang ashshu'udat dengan dhammahnya shad dan 'ain ertinya ialah jalan dan ertinya taj-aruna ialah memohonkan pertolongan.

406. Dari Abu Barzah - dengan menggunakan r.a. kemudian zai - iaitu Nadhlah bin'Ubaid al-Aslami r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda:

"Tidak henti-hentinya kedua kaki seseorang hamba - di hadapan Allah - pada hari kiamat - untuk ditentukan, apakah masuk syurga atau neraka, sehingga ia ditanya perihal umurnya, untuk apa dihabiskannya, perihal ilmunya, untuk apa ia melakukannya, perihal hartanya, dari mana ia memperolehinya dan untuk apa dinafkahkannya, juga perihal tubuhnya, untuk kepentingan apa dirosakkannya - yakni sampai matinya itu digunakan apa."

Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan ia mengatakan bahawa ini adalah Hadis hasan shahih.

407. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. membaca - yang ertinya: "Pada hari itu - yakni hari kiamat - bumi akan memberitahukan khabar-khabarnya," kemudian beliau s.a.w. bersabda : "Adakah engkau semua mengetahui, apakah khabar-khabarnya itu?" Para sahabat berkata: "Allah dan RasulNya adalah lebih mengetahui." Beliau s.a.w. lalu bersabda: "Sesungguhnya khabar-khabar yang akan diberitahukan itu ialah bahawa bumi itu akan menyaksikan pada setiap hamba, lelaki atau perempuan, perihal apa yang dilakukan di atas bumi itu. Bumi akan mengucapkan: "Orang ini akan melakukan begini dan begitu pada hari ini dan itu. Inilah khabar-khabarnya."

Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan ia mengatakan bahawa ini adalah Hadis hasan.

408. Dari Abu Said al-Khudri r.a. katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda:

"Bagaimanakah saya akan dapat bersenang-senang sedang malaikat yang bertugas meniup terompet sudah meletakkan mulutnya pada hujung terompet - sebagai tanda sudah dekatnya hari kiamat, sambil mendengarkan perintah, bila saja ia diperintah untuk meniupnya itu, maka seketika itu pula ia akan meniupkannya." Berita yang sedemikian dirasakan amat berat sekali oleh para sahabat Rasulullah s.a.w., lalu beliau s.a.w. bersabda kepada mereka: "Ucapkan sajalah: Hasbunallah wa ni'mal wakil - yakni cukuplah kita semua menyerahkan diri kepada Allah dan Dia adalah sebaik-baiknya Zat yang diserahi."

Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan ia mengatakan bahawa ini adalah Hadis hasan.

Alqarn ialah trompet yang difirmankan oleh Allah Ta'ala yang ertinya: Dan ditiuplah dalam trompet. Demikianlah yang ditafsirkan oleh Rasulullah s.a.w.

409. Dari Abu Hurairah r-a katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda:

"Barangsiapa yang takut bermalam, tentu ia terus berjalan di waktu malam - untuk pulang - dan barangsiapa yang berjalan malam-malam, tentu sampai di rumah. Ingatlah bahawasanya harta-benda Allah itu adalah mahal sekali. Ingatlah bahawasanya harta-benda Allah yang dimaksudkan itu ialah syurga."

Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan ia mengatakan bahawa ini dalah Hadis hasan.

Adlaja dengan sukunnya dal, ertinya ialah berjalan di waktu permulaan malam. Adapun maksudnya ialah supaya kita semua giat-giat untuk melakukan ketaatan kepada Allah.

Wallahu a'lam.

410. Dari Aisyah radhiallahu 'anha, katanya: Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda:

"Dikumpulkanlah sekalian manusia di padang mahsyar pada hari kiamat dengan telanjang kaki, telanjang tubuh dan tidak berkhitan kemaluannya." Saya bertanya: "Ya Rasulullah, kalau begitu kaum wanita dan kaum lelaki semuanya dapat melihat antara yang sebahagian dengan sebahagian yang lainnya." Beliau s.a.w. menjawab: "Hai Aisyah, peristiwa pada hari itu lebih sangat untuk menjadi perhatian mereka daripada memerhatikan orang lain."

Dalam riwayat lain disebutkan:

"Peristiwa pada hari itu lebih penting untuk diperhatikan oleh setiap orang - daripada yang sebahagian melihat kepada sebahagian yang lain." (Muttafaq 'alaih)

Ghurlan dengan dhammahnya ghain ertinya tidak berkhitan.

#BAB 51#

Mengharapkan

Allah Ta'ala berfirman:

"Katakantah, hai hamba-hambaKu yang melampaui batas dalam mencelakakan dirinya sendiri - yang berlebih-lebihan dalam melakukan kemaksiatan, janganlah engkau semua berputus asa dari rahmat Allah - yakni dari pengampunanNya, sesungguhnya Allah itu dapat mengampuni segala macam dosa, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun lagi Penyayang." (az-Zumar: 53)

Allah Ta'ala berfirman pula:

"Dan Kami tidak akan memberikan pembalasan, melainkan kepada orang yang sangat keras kepala." (Saba': 17)

Allah Ta'ala berfirman pula:

"Sesungguhnya telah diwahyukan kepada kami bahawa siksaan itu adalah untuk orang yang mendustakan dan membelakang tidak suka menerima petunjuk Allah." (Thaha: 48)

Juga Allah Ta'ala berfirman:

"Dan rahmatKu melebar - meliputi - segala sesuatu." (al-A'raf: 156)

Keterangan:

Judul dalam bab ini ialah "Mengharapkan", maksudnya mengharapkan agar supaya kita mendapatkan keredhaan, kerahmatan, kasih sayang serta pengampunan dari Allah Ta'ala.

Seseorang yang mengharapkan sebagaimana di atas itu dari Allah Ta'ala ada kalanya disertai dengan amal perbuatan yang menyebabkan dapat dikabulkan permohonannya itu oleh Allah, tetapi ada pula yang tidak disertai apa-apa. Jadi hanya mengharapkan saja tanpa berbuat sesuatu yang menyebabkan terkabulnya. Mengharapkan sebagaimana yang tersebut pertama itu disebut Raja' sedang yang kedua disebut Tamanni.

Secara ringkasnya, apabila kita mengharapkan keselamatan di dunia dan akhirat dan kita sertai amal perbuatan yang nyata, memenuhi apa-apa yang diperintahkan oleh Allah, meninggalkan apa-apa yang dilarang olehNya, segala kewajipan yang dibebankan kepada kita, baik terhadap Allah, mahupun terhadap masyarakat kita penuhi maka insya Allah terkabullah harapan kita dan di akhirat akan kita temui pula pahalanya yakni masuk dalam syurga. Sebaliknya kalau semua itu tidak kita laksanakan, apalagi jika ditambah dengan mengerjakan kemungkaran dan kemaksiatan, kemudian mengharapkan pengampunan Allah, maka jangan diharap akan dikabulkan bahkan sebaliknya, iaitu di dunia hati kita tidak tenang dan selalu gelisah, sedang azab Allah di akhirat sudah menanti-nantikan iaitu dilemparkan ke dalam api neraka.

Jadi yang wajib kita lakukan ialah Raja' dan bukannya Tamanni.

411. Dari 'Ubadah bin ash-Shamit r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda:

"Barangsiapa yang menyaksikan bahawasanya tiada Tuhan melainkan Allah yang Maha Esa, tiada sekutu bagiNya,dan bahawasanya Muhammad adalah hambaNya serta RasulNya, dan bahawasanya Isa adalah hamba Allah dan RasulNya serta kalimatNya diberikan kepada Maryam - kerana wujudnya itu tanpa ayah, juga sebagai ruh daripadaNya - kerana dapat menghidupkan orang yang mati dengan izin Allah, menyaksikan pula bahawa syurga dan neraka itu benar adanya, maka orang yang sedemikian itu akan dimasukkan oleh Allah ke dalam syurga sesuai dengan amalan yang dilakukan olehnya."(Muttafaq 'alaih)

Dalam riwayat Muslim disebutkan: "Barangsiapa yang menyaksikan bahawasanya tiada Tuhan melainkan Allah dan bahawasanya Muhammad adalah Rasulullah maka Allah mengharamkan ia masuk neraka."

412. Dari Abu Zar r.a., katanya: "Nabi s.a.w. bersabda: "Allah Azzawajalla berfirman - dalam Hadis Qudsi: "Barangsiapa yang datang - mengerjakan - kebaikan, maka baginya adalah pahala sepuluh kali lipatnya atau Aku tambahkan dan barangsiapa yang datang - melakukan - keburukan balasannya keburukan ialah keburukan yang seperti itu atau Aku ampunkan dosanya. Barangsiapa yang mendekat padaKu sejengkal, maka Aku mendekat padanya sehasta, barangsiapa yang mendekat padaKu sehasta, maka Aku mendekat padanya sedepa. Barangsiapa yang datang di tempatKu dengan berjalan, maka Aku akan mendatanginya dengan bergegas-gegas. Barangsiapa yang menemui Aku dengan membawa kesalahan hampir sepenuh bumi, maka asalkan ia tidak menyekutukan sesuatu denganKu, tentu Aku akan menemuinya dengan pengampunan sebanyak kesalahan yang dilakukan olehnya." (Riwayat Muslim)

Makna Hadis di atas ialah barangsiapa yang mendekat kepadaKu dengan melakukan ketaatan, maka Aku akan mendekatinya dengan memberikan kerahmatanKu, jikalau itu ditambah oleh orang itu, maka kerahmatan itu pun Kutambahkan. Jikalau seseorang itu datang padaKu dengan berjalan dan bergegas-gegas dalam melakukan ketaatan padaKu, maka Aku akan mendatanginya dengan bergegas-gegas pula yakni bahawa Aku akan menuangkan padanya kerahmatan yang berlimpah-ruah dan Aku mendahuluinya untuk melakukan itu dan Aku tidak memerlukan supaya ia berjalan terlalu banyak untuk dapat sampai kepada yang dimaksudkan itu.

Qurabul ardhi dengan dhammahnya qaf dan ada yang mengatakan dengan kasrahnya, tetapi dengan dhammah adalah lebih shahih dan lebih tersohor, sedang maknanya ialah sesuatu yang hampir sepenuh bumi. Wallahu a'lam.

413. Dari Jabir r.a., katanya: "Ada seorang A'rab - orang Arab dari pedalaman - datang kepada Nabi s.a.w., lalu berkata: "Ya Rasulullah, apakah dua hal yang mewajibkan itu?" Beliau s.a.w. menjawab: "Barangsiapa yang mati tidak menyekutukan sesuatu dengan Allah, maka masuklah ia dalam syurga - jadi ini yang mewajibkan ia masuk syurga. Sebaliknya barangsiapa yang mati dan menyekutukan sesuatu dengan Allah, maka masuklah ia dalam neraka - jadi ini yang mewajibkan ia masuk neraka." (Riwayat Muslim)

414. Dari Anas r.a. bahawasanya Nabi s.a.w. dan Mu'az ada di belakangnya sama-sama menaiki suatu kenderaan. Beliau s.a.w. bersabda: "Hai Mu'az. Mu'az menjawab: "Labbaik, ya Rasulullah, wa sa'daik," - ini adalah kata-kata mengiyakan bagi orang Arab yang amat sopan sekali.

Beliau s.a.w. bersabda lagi: "Hai Mu'az. Mu'az menjawab: "Labbaik, ya Rasulullah wa sa'daik." Beliau s.a.w. bersabda lagi: "Hai Mu'az. Mu'az menjawab: "Labbaik, ya Rasulullah wa sa'daik." Tiga kali banyaknya. Selanjutnya beliau s.a.w. bersabda: "Tiada seorang hamba pun yang menyaksikan bahawasanya tiada Tuhan melainkan Allah dan bahawasanya Muhammad adalah hamba Allah dan RasulNya, dengan penuh keyakinan dalam hatinya, melainkan Allah akan mengharamkan orang itu masuk ke dalam neraka." Mu'az berkata: "Ya Rasulullah, bukankah lebih baik jikalau berita ini saya khabarkan kepada seluruh manusia, supaya mereka itu ikut bergembira." Beliau s.a.w. menjawab: "Kalau itu diberitahukan tentu orang-orang akan hanya bertawakal saja - yakni tanpa beramal ibadat dan merasa akan selamat dengan ucapan syahadat belaka dan yang sedemikian tentulah salah jadinya. Oleh sebab itu Mu'az memberitahukan sabda beliau s.a.w. ini sewaktu hendak matinya saja kerana takut berdosa." (Muttafaq 'alaih)

Perkataan Anas r.a.: Ta-atstsuman iaitu takut berdosa kerana menyimpan ilmu ini - yakni apa-apa yang diterima dari Nabi s.a.w. itu.

415. Dari Abu Hurairah r.a. atau dari Abu Said al-Khudri radhiallahu 'anhuma - yang merawikan Hadis ini ragu-ragu apakah dari Abu Hurairah atau dari Abu Said, tetapi keragu-raguan semacam ini tidak membahayakan shahihnya Hadis dalam diri sahabat, sebab semua itu adalah orang-orang adil, katanya: "Ketika terjadi perang Tabuk, maka orang-orang sama menderita kelaparan, lalu mereka berkata: "Ya Rasulullah bagaimana andaikata Tuan izinkan saja kita menyembelih unta-unta kita, kemudian kita dapat bersama-sama makan dan berminyak - dengan lemaknya. Rasulullah s.a.w. lalu bersabda: "Lakukanlah itu - yakni sembelihlah." Kemudian datanglah Umar r.a. lalu berkata: "Ya Rasulullah, jikalau Tuan membolehkan itu dilaksanakan, maka berkuranglah kenderaan yang dapat dinaiki, tetapi panggillah orang-orang itu dengan membawa sisa-sisa bekalnya sendiri, kemudian berdoalah kepada Allah untuk mereka agar mendapatkan keberkahan, barangkali Allah akan memberikan keberkahan dalam makanan mereka." Rasulullah s.a.w. lalu bersabda: "Ya." Beliau s.a.w. meminta didatangkan selembar kulit kering kemudian dibeberkannya, lalu menyuruh orang-orang itu meletakkan sisa-sisa bekalnya. Di situ ada seorang yang datang dengan membawa segenggam gandum, yang lainnya datang dengan segenggam kurma, yang lainnya pula dengan sekerat roti, sehingga berkumpullah di atas kulit tadi sekadar makanan yang amat sedikit. Selanjutnya Rasulullah mendoakan agar makanan itu mendapatkan keberkahan Allah, lalu beliau s.a.w. bersabda: "Ambillah itu di masing-masing wadahmu." Orang-orang sama mengambilnya di wadahnya sendiri-sendiri sehingga tidak sebuah wadah pun yang mereka tinggalkan di kalangan tentera itu melainkan sudah diisi penuh-penuh. Mereka dapat makan sampai kenyang dan masih ada sisa kelebihannya. Seterusnya Rasulullah s.a.w. bersabda: "Saya menyaksikan bahawa tiada Tuhan melainkan Allah dan bahawasanya saya adalah Rasulullah. Tiada seseorang hamba pun yang menemui kedua kalimat syahadat itu - setelah matinya nanti, sedangkan ia tidak ragu-ragu, lalu ditolak dari masuk syurga - maksudnya orang yang diketahui mempunyai keyakinan yang mantap mengenai dua kalimat syahadat itu, pasti tidak terhalang untuk masuk syurga." (Riwayat Muslim)

416. Dari 'Itban bin Malik r.a., ia adalah salah seorang yang ikut menyaksikan perang Badar, katanya: "Saya bersembahyang sebagai imam untuk kaumku iaitu Bani Salim. Antara tempatku dengan tempat mereka itu dihalang-halangi oleh sebuah lembah yang jikalau banyak turun hujan, maka sukar saya melaluinya untuk menuju ke masjid mereka itu. Oleh sebab itu saya datang kepada Rasulullah s.a.w., lalu saya berkata kepadanya: "Sesungguhnya saya ini sudah kurang terang penglihatanku dan sesungguhnya lembah yang ada di antara tempatku dengan tempat kaumku itu mengalir airnya jikalau banyak hujan datang, maka sukarlah bagiku untuk melaluinya. Jadi saya ingin sekali jikalau Tuan mendatangi tempatku lalu bersembahyang di suatu tempat di rumahku, yang seterusnya akan saya gunakan sebagai tempat bersembahyang." Rasulullah s.a.w. bersabda: "Akan saya lakukan permintaanmu itu." Maka besoknya datanglah Rasulullah s.a.w. di tempatku.bersama Abu Bakar r.a. sesudah tinggi hari - yakni tengah siang. Rasulullah s.a.w. meminta izin masuk lalu saya izinkan, tetapi beliau tidak suka duduk sehingga akhirnya berkata: "Di manakah tempat yang engkau inginkan supaya saya bersembahyang di rumahmu ini?" Saya menunjukkan pada suatu tempat yang saya inginkan supaya beliau bersembahyang di rumahmu ini?" Saya menunjukkan pada suatu tempat yang saya inginkan supaya beliau bersembahyang di situ. Rasulullah s.a.w. lalu berdiri, kemudian bertakbir dan kita berbaris di belakangnya. Beliau s.a.w. bersembahyang dua rakaat kemudian bersalam dan kita pun bersalam pula ketika beliau bersalam. Seterusnya beliau s.a.w. saya tahan untuk makan hidangan berupa khazirah yang sengaja dibuat untuk menghormatinya. Penduduk desa itu sama mendengar bahawasanya Rasulullah ada di rumahku, Lalu banyaklah orang-orang yang berkumpul dari para penduduknya itu sehingga banyaklah kaum lelaki di rumahku itu. Kemudian ada seorang lelaki berkata: "Apakah yang dikerjakan Malik itu, saya tidak mengetahuinya." Orang lelaki lain berkata: "Ia memang seorang munafik yang tidak cinta kepada Allah dan RasulNya." Rasulullah s.a.w. lalu bersabda: "Janganlah berkata sedemikian itu. Tidakkah engkau ketahui bahawa ia mengucapkan La ilaha illallah, yang dengan itu semata-mata mencari keredhaan Allah Ta'ala?" Orang itu berkata: "Allah dan RasulNya adalah lebih mengetahui. Adapun kita, maka demi Allah, tidak pernah kita mengetahui akan kecintaannya dan tidak   pula   pembicaraannya   melainkan   condong   kepada   kaum munafik saja. "Rasulullah s.a.w. lalu bersabda: "Sesungguhnya Allah mengharamkan untuk masuk neraka orang yang mengucapkan La ilaha illallah yang dengannya itu ia mencari semata-mata keredhaan Allah." (Muttafaq 'alaih)

'Itban dengan kasrahnya 'ain muhmalah dan sukunnya ta' mutsannat, yakni bertitik dua di atas dan sesudahnya itu ada ba' muwahhadah.

Khazirah dengan kha' mu'jamah dan zai ialah tepung yang dimasak dengan lemak. Adapun tsaba rijalun dengan tsa' mutsallatsah ertinya ialah datang dan berkumpul semua orang-orang lelaki itu.

417. Dari Umar bin Alkhaththab r.a., katanya: "Kepada Rasulullah s.a.w. disampaikanlah tawanan perang. Tiba-tiba ada seorang wanita dari golongan kaum tawanan itu berjalan ketika menemukan seorang anak yang juga termasuk dalam kelompok tawanan tadi. Wanita itu lalu mengambil anak tersebut lalu diletakkannya pada perutnya, kemudian disusuinya. Rasulullah s.a.w. lalu bersabda: "Adakah engkau semua dapat mengira-ngirakan bahawa wanita ini akan sampai hati meletakkan anaknya dalam api?" Kita - yakni para sahabat - menjawab: "Tidak, demi Allah - maksudnya wanita yang begitu sayang pada anaknya, tidak mungkin akan sampai meletakkan anaknya dalam api." Selanjutnya beliau s.a.w. bersabda: "Nescayalah Allah itu lebih kasih sayang kepada sekalian hamba-hambaNya daripada kasih sayangnya wanita ini kepada anaknya." (Muttafaq 'alaih)

418. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda:

"Ketika Allah menciptakan semua makhluk, maka ditulislah olehNya dalam suatu kitab, maka kitab itu ada di sisiNya di atas 'arasy, yang isinya: Bahawasanya kerahmatanKu itu dapat mengalahkan kemurkaanKu." Dalam riwayat lain disebutkan: "Telah mengalahkan kemurkaanKu" dan dalam riwayat lainnya lagi disebutkan: "Telah mendahului kemurkaanKu." - maksudnya bahawa kerahmatan itu jauh lebih besar daripada kemurkaanNya. (Muttafaq 'alaih)

Keterangan:

Maksudnya "KerahmatanKu itu mengalahkan atau mendahului kemurkaanKu" itu ialah bahawa kemurkaan Allah Ta'ala ataupun keredhaanNya itu kembali kepada pengertian iradah yakni kehendak Allah sendiri. Jadi sudah menjadi kehendak Allah bahawa pahala itu tentulah diberikan kepada orang yang mentaatiNya, sedangkan seseorang hamba Allah yang memperolehi kemuliaan dari Allah itu bererti mendapatkan keredhaan serta kerahmatanNya. Sebaliknya jika Allah berkehendak menyiksa orang yang melakukan kemaksiatan itu pun sudah sepatutnya, sedang kehinaan yang diterima oleh manusia semacam itulah yang dinamakan kemurkaan Allah. Jadi pengertian mendahului dan mengalahkan di sini ialah kerana banyaknya kerahmatan dan apa saja yang terkandung dalam makna rahmat atau kasih sayang Allah itu.

419. Dari Abu Hurairah r.a. pula, katanya: "Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda:

"Allah menjadikan kerahmatan itu sebanyak seratus bahagian, olehNya ditahanlah yang sembilan puluh sembilan dan diturunkanlah ke bumi yang satu bahagian saja. Maka dari kerahmatan yang satu bahagian itu sekalian makhluk dapat saling sayang-menyayangi, sehingga seekor binatang pun pasti mengangkat kakinya dari anaknya kerana takut kalau akan mengenai - menginjak - anaknya itu."

Dalam riwayat lain disebutkan:

Sesungguhnya Allah Ta'ala memiliki sebanyak seratus kerahmatan dan olehNya diturunkanlah satu bahagian dari seratus kerahmatan itu untuk diberikan kepada golongan jin, manusia, binatang dan segala yang merayap. Maka dengan satu kerahmatan itu mereka dapat saling kasih-mengasihi, dengannya pula dapat sayang menyayangi, bahkan dengannya pula binatang buas itu menaruh hiba hati kepada anaknya. Allah mengakhirkan yang sembilan puluh sembilan kerahmatan itu yang dengannya Allah akan merahmati hamba-hambaNya pada hari kiamat." (Muttafaq 'alaih)

Juga diriwayatkan Hadis seperti itu dari riwayat Salman al-Farisi r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda:

"Sesungguhnya Allah itu memiliki seratus kerahmatan, maka di antara seratus itu ada satu bahagian kerahmatan yang dengannya sekalian makhluk dapat saling kasih-mengasihi antara sesamanya, sedang yang sembilan puluh sembilan untuk hari kiamat nanti."

Dalam riwayat lain disebutkan:

"Sesungguhnya Allah itu di waktu menciptakan semua langit dan bumi, diciptakan pula olehNya seratus kerahmatan, setiap kerahmatan itu dapat merupakan tutup yang memenuhi alam di antara langit dan bumi. [43] Kemudian dari seratus tadi yang satu kerahmatan dijadikan untuk diletakkan di bumi, maka dengan satu kerahmatan inilah seseorang ibu dapat mengasihi anaknya, binatang buas dan burung, sebahagian kepada setengah yang lainnya. Selanjutnya apabila telah tiba hari kiamat, Allah akan menyempurnakan dengan kerahmatan ini - yakni dilengkapkan menjadi seratus penuh."

420. Dari Abu Hurairah r.a. pula dari Nabi s.a.w. dalam suatu riwayat yang diceritakannya dari Tuhannya yakni Allah Ta'ala sabdanya:

"Jikalau seseorang hamba itu melakukan sesuatu dosa lalu ia berkata: "Ya Allah, ampunilah dosaku," maka berfirmanlah Allah Tabaraka wa Ta'ala: "HambaKu melakukan sesuatu yang berdosa, lalu ia mengerti bahawa ia mempunyai Tuhan yang dapat mengampuni dosa dan dapat pula memberikan hukuman sebab adanya dosa itu." Kemudian apabila hamba itu mengulangi untuk berbuat dosa lagi, lalu ia berkata: "Ya Tuhanku, ampunilah dosaku," maka Allah Tabaraka wa Ta'ala berfirman: "HambaKu melakukan sesuatu yang berdosa lagi, tetapi ia tetap mengetahui bahawa ia mempunyai Tuhan yang dapat mengampuni dosa dan dapat pula memberikan hukuman sebab adanya dosa itu." Seterusnya apabila hamba mengulangi dosa lagi lalu berkata: "Ya Tuhanku, ampunilah dosaku," maka Allah Tabaraka wa Ta'ala berfirman: "HambaKu berbuat dosa lagi, tetapi ia mengetahui bahwa ia mempunyai Tuhan yang dapat mengampuni dosa dan dapat pula memberikan hukuman sebab adanya dosa itu. Aku telah mengampuni dosa hambaKu itu, maka hendaklah ia berbuat sekehendak hatinya." (Muttafaq 'alaih)

Firman Allah Ta'ala: Falyaf'al ma-sya'a yakni bolehlah ia mengerjakan sekehendak hatinya itu maksudnya ialah selama melakukan yang sedemikian itu yakni melakukan dosa lalu segera bertaubat, maka Aku - Allah - mengampuninya, sebab sesungguhnya taubat itu dapat melenyapkan dosa-dosa yang sebelumnya.

421. Dari Abu Hurairah r.a. pula, katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Demi Zat yang jiwaku ada di dalam genggaman kekuasaanNya, andaikata engkau semua tidak ada yang melakukan dosa, nescayalah Allah akan melenyapkan engkau semua, lalu mendatangkan suatu kaum lain yang melakukan dosa kemudian mereka meminta pengampunan kepada Allah Ta'ala, lalu Allah mengampuni mereka itu." (Muttafaq 'alaih)

422. Dari Abu Ayyub, iaitu Khalid bin Zaid r.a., katanya: "Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda:

"Andaikata engkau semua tidak ada yang melakukan dosa, nescayalah Allah akan menciptakan suatu makhluk baru yang melakukan dosa, lalu mereka memohonkan pengampunan padaNya, kemudian Allah mengampuni mereka itu." (Riwayat Imam Muslim)

423. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: "Kita semua pada suatu ketika duduk-duduk bersama-sama Rasulullah s.a.w., juga menyertai kita Abu Bakar dan Umar radhiallahu 'anhuma dalam suatu kelompok - antara tiga sampai sembilan orang. Kemudian berdirilah Rasulullah s.a.w. meninggalkan kita semua, tetapi agak lambat datangnya kembali. Kita semua takut kalau-kalau akan terputuskan dari kita - maksudnya kalau memperolehi bahaya, maka dari itu kita semua menjadi takut dan kita pun berdiri. Saya - yakni Abu Hurairah r.a. - adalah pertama-tama orang yang merasa takut itu. Maka keluarlah saya untuk mencari Rasulullah s.a.w., sehingga sampailah saya di suatu dinding milik orang Anshar - Abu Hurairah lalu menceriterakan Hadis ini yang agak panjang, sehingga pada sabda Nabi s.a.w., iaitu Rasulullah s.a.w. bersabda: "Pergilah, maka setiap orang yang engkau temui di balik dinding ini, asalkan ia menyaksikan bahawa tiada Tuhan melainkan Allah dengan hatinya yang benar-benar meyakinkan sedemikian itu, maka berilah khabar gembira bahawa ia akan masuk syurga." (Riwayat Muslim)

424. Dari Abdullah bin 'Amr bin al'Ash radhiallahu 'anhuma bahawasanya Nabi s.a.w. membaca firman Allah Azzawajalla mengenai riwayat Nabi Ibrahim a.s., iaitu - yang ertinya: "Ya Tuhanku, sesungguhnya berhala-berhala itu menyesatkan sebahagian besar manusia, maka barangsiapa yang mengikuti aku, maka sesungguhnya ia adalah termasuk dalam golonganku," sampai akhirnya ayat. [44] Nabi Isa a.s. - juga diceriterakan dalam firman Allah yang ertinya: "Jikalau Engkau - ya Tuhan - menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka itu adalah hamba-hambaMu sendiri dan jikalau Engkau memberi pengampunan kepada mereka, maka sesungguhnya Engkau adalah Maha Mulia lagi Bijaksana. [45] Beliau s.a.w. lalu mengangkat kedua tangannya dan berdoa: "Ya Allah, ummatku, ummatku," dan terus menangis. Kemudian Allah Azza wa jalla berfirman: "Hai Jibril, pergilah ke Muhammad - dan Tuhanmu sebenarnya adalah lebih mengetahui sebabnya - lalu tanyakan-lah padanya, apa yang menyebabkan ia menangis?" Nabi s.a.w. didatangi oleh Jibril lalu Rasulullah s.a.w. memberitahukan apa yang telah diucapkannya, sedangkan Allah adalah lebih Maha Mengetahui. Kemudian Allah Ta'ala berfirman: "Hai Jibril, pergilah ke Muhammad dan katakanlah: "Sesungguhnya Kami akan memberikan keredhaan pada ummatmu dan Kami tidak akan membuat keburukan padamu - yakni membuat engkau menjadi susah." (Riwayat Muslim)

425. Dari Mu'az bin Jabal r.a., katanya: "Saya ada di belakang Nabi s.a.w. ketika menaiki seekor keledai, lalu beliau s.a.w. bertanya: "Hai Mu'az, adakah engkau tahu, apakah haknya Allah atas sekalian hambaNya dan apakah haknya hamba-hamba itu atas Allah?" Saya menjawab: "Allah dan RasulNya adalah lebih mengetahui." Beliau lalu bersabda: "Sesungguhnya haknya Allah atas semua hamba-hambaNya ialah supaya mereka itu menyembahNya dan tidak menyekutukan sesuatu dengan Allah, sedang haknya hamba-hamba atas Allah ialah Allah tidak akan menyiksa siapa saja yang tidak menyekutukan sesuatu dengan Allah itu." Saya lalu berkata: "Bukankah baik sekali jikalau berita gembira ini saya beritahukan kepada seluruh manusia?" Beliau s.a.w. bersabda: "Janganlah engkau memberitakan ini kepada mereka sebab mereka nantinya akan menyerah bulat-bulat - tanpa suka beramal." (Muttafaq 'alaih)

426. Dari Albara' bin 'Azib radhiallahu 'anhuma dari Nabi s.a.w., sabdanya:

"Seorang Muslim itu apabila ditanya dalam kubur, maka ia akan menyaksikan bahawasanya tiada Tuhan melainkan Allah dan bahawa-sanya Muhammad adalah Rasulullah. Yang sedemikian itu adalah sesuai dengan firmannya Allah Ta'ala - yang ertinya: "Allah memberikan ketetapan kepada orang-orang yang beriman dengan ucapan yang mantap, baik di dalam kehidupan dunia ini, mahupun dalam akhirat." (Muttafaq 'alaih)

427. Dari Anas r.a. dari Rasulullah s.a.w., sabdanya: "Sesungguhnya orang kafir itu apabila melakukan sesuatu amal kebaikan, maka dengannya itu ditujukan untuk didapatkannya sesuatu makanan di dunia - yakni tujuannya semata untuk memperolehi rezeki di dunia saja, sedangkan orang mu'min, maka sesungguhnya Allah Ta'ala memberikan simpanan untuknya berupa beberapa kebajikan di akhirat dan diikutkan pula dengan memperolehi rezeki di dunia dengan sebab ketaatannya."

Dalam riwayat lain disebutkan:

"Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang mu'min akan kebaikannya, dengannya itu akan diberikan rezeki di dunia dan dengannya pula akan diberi balasan baik di akhirat. Ada pun orang kafir, maka ia akan diberi makan - yakni rezeki - dengan kebaikan-kebaikan yang merupakan hasil amalannya kerana Allah Ta'ala di dunia, sehingga apabila ia telah menjadi - yakni memasuki - ke akhirat, maka sama sekali tidak ada lagi kebaikan baginya yang dapat diberikan balasannya." (Riwayat Muslim)

428. Dari Jabir r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Perumpamaan shalat-shalat lima waktu itu adalah seperti sungai yang mengalir secara melimpah-ruah pada pintu rumah seseorang dari engkau semua. Ia mandi di situ setiap hari lima kali." (Riwayat Muslim)

429. Dari Ibnu Abbas radhiallahu 'anhuma, katanya: "Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda:

"Tiada seorang muslim pun yang meninggal dunia, kemudian berdiri untuk menyembahyangi jenazahnya itu sebanyak empat puluh orang yang semuanya tidak menyekutukan sesuatu dengan Allah, melainkan Allah akan mengurniakan syafaat kepada orang yang mati tadi." (Riwayat Muslim)

430. Dari Ibnu Mas'ud r.a., katanya: "Kita semua berada bersama-sama Rasulullah s.a.w. dalam sebuah khemah, kira-kira ada empat puluh orang, lalu beliau s.a.w. bersabda: "Relakah engkau semua jikalau engkau semua - ummat Muhammad semuanya ini - menjadi seperempatnya ahli syurga?" Kita semua menjawab: "Ya." Beliau s.a.w. bersabda pula: "Relakah engkau semua kalau menjadi sepertiga ahli syurga." Kita semua menjawab: "Ya." Beliau s.a.w. lalu bersabda: "Demi Zat yang jiwa Muhammad ada di dalam genggaman kekuasaanNya, sesungguhnya saya mengharapkan kalau engkau semua itu akan menjadi setengahnya ahli syurga. Yang sedemikian itu kerana sesungguhnya syurga itu tidak dapat dimasuki melainkan oleh seseorang yang Muslim, sedangkan engkau semua bukanlah ahli kemusyrikan, melainkan seperti rambut putih dalam kulit lembu yang hitam atau seperti rambut hitam dalam kulit lembu yang merah." (Muttafaq 'alaih)

431. Dari Abu Musa al-Asy'ari r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda:

"Jikalau telah tiba hari kiamat, maka Allah menyerahkan kepada setiap orang Islam akan seorang Yahudi atau Nasrani, lalu Allah berfirman: "Inilah hari kelepasanmu dari neraka."

Dalam riwayat lain disebutkan dari Abu Musa r.a. dari Nabi s.a.w., sabdanya:

"Pada hari kiamat datanglah beberapa orang dari kaum Muslimin dengan membawa dosa sebesar gunung-gunung, lalu diampunkanlah oleh Allah untuk mereka itu." (Riwayat Muslim)

Sabda Nabi s.a.w.: "Allah menyerahkan kepada setiap orang Islam akan seorang Yahudi atau Nasrani, lalu Allah berfirman: "Ini hari kelepasanmu dari neraka,"ertinya itu dijelaskan oleh Hadis Abu Hurairah r.a. iaitu:

"Setiap orang itu mempunyai sebuah tempat di syurga dan sebuah tempat lagi di neraka. Orang mu'min itu apabila telah masuk syurga, maka akan diikuti oleh orang kafir untuk masuk dalam neraka sebab sebenarnya orang kafir itu memang berhak sekali untuk menempati tempat di neraka itu sebab kekafirannya." Adapun erti fakakuka, ialah bahawasanya engkau itu sudah ditampakkan untuk masuk neraka, tetapi hari inilah kelepasanmu dari neraka itu, sebab Allah Ta'ala telah menentukan untuk neraka itu sejumlah isi yang akan menemuinya, maka jikalau kaum kafirin telah memasuki neraka dengan sebab dosa-dosa serta kekafirannya, maka berertilah bahawa peristiwa itu menjadi hari kelepasan kaum Muslimin dari siksa neraka tadi.

Wallahu a'lam.

432. Dari Ibnu Umar radhiallahu 'anhuma, katanya: "Saya mendengar Rasulullah s.a.w., bersabda:

"Di dekatkanlah orang mu'min itu pada hari kiamat dari Tuhannya, [46] sehingga Allah meletakkan tutupNya atas orang mu'min tadi, kemudian Allah menetapkan semua dosanya, tetapi Allah lalu berfirman: "Adakah engkau mengerti tentang dosanya demikian? Tahukah engkau dosanya sedemikian ini?" Orang itu menjawab: "Ya Tuhanku, saya tahu." Allah lalu berfirman: "Sesungguhnya dosa-dosa itu telah Ku tutupi untukmu di dunia dan pada hari ini Ku ampuni semuanya itu bagimu, kemudian diberikanlah catatan amalan kebaikannya." (Muttafaq 'alaih)

Kanafuhu ertinya tutup serta rahmatNya.

433. Dari Ibnu Mas'ud r.a. bahawasanya ada seorang lelaki memberikan ciuman pada seseorang wanita - bukan isterinya, lalu ia mendatangi Nabi s.a.w. kemudian memberitahukan padanya akan halnya. Allah Ta'ala lalu menurunkan ayat - yang ertinya: "Dan dirikanlah shalat pada kedua tepi siang hari dan sebahagian dari waktu malam. Sesungguhnya kebaikan-kebaikan itu dapat melenyapkan keburukan-keburukan." Orang itu lalu bertanya: "Apakah ayat itu untukku saja, ya Rasulullah?" Beliau s.a.w. bersabda: "Untuk semua ummatku." (Muttafaq 'alaih)

434. Dari Anas r.a., katanya: "Ada seorang datang kepada Nabi s.a.w., lalu berkata: "Ya Rasulullah, saya telah melakukan sesuatu yang wajib dikenakan had - hukuman, maka laksanakanlah itu untukku." Waktu itu sudah tiba saatnya shalat, lalu ia bersembahyang bersama Rasuluilah s.a.w. Selanjutnya setelah selesai shalatnya, orang itu berkata lagi: "Ya Rasulullah, saya telah melakukan perbuatan yang wajib dikenakan had, maka laksanakanlah itu untukku sesuai dengan kitabullah." Beliau s.a.w. bertanya: "Apakah engkau telah melakukan shalat bersama kita tadi?" Ia menjawab: "Ya." Beliau s.a.w. bersabda: "Telah diampunkan dosa itu untukmu." (Muttafaq 'alaih)

Ucapan orang yang berbunyi Ashabtu haddan itu ertinya ialah bahawa orang tadi telah melakukan suatu kemaksiatan yang mewajibkan ia dita'zir. Jadi bukan maksudnya itu merupakan had syar'i yang sebenar-benarnya seperti hadnya orang berzina, minum arak atau selainnya itu, sebab had-had semacam ini tidak dapat gugur hanya dengan melakukan shalat saja, juga bagi seseorang imam pemegang kekuasaan negara - tidak boleh meninggalkan atau mengabaikannya.

435. Dari Anas r.a. pula, katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda:

"Sesungguhnya Allah itu nescayalah redha pada seseorang hambaNya, jikalau ia makan sesuatu makanan lalu memuji kepada Allah kerana adanya makanan itu, atau minum suatu minuman lalu memuji padanya kerana adanya minuman itu." (Riwayat Muslim)

Al-aklatu dengan fathahnya hamzah, ialah sekali makanan yang dilakukan seperti makan siang atau makan malam.

Wallahu a'lam.

436. Dari Abu Musa r.a. dari Nabi s.a.w., sabdanya: "Sesungguhnya Allah itu membeberkan tanganNya - yakni kerahmatanNya - di waktu malam hari, supaya bertaubatlah orang yang melakukan keburukan pada siang harinya, serta membeberkan tanganNya - kerahmatanNya - di siang hari, supaya bertaubatlah orang yang melakukan keburukan pada malam harinya. Hal in terus sampai matahari terbit dari arah barat - maksudnya sampai dekat tibanya hari kiamat." (Riwayat Muslim)

437. Dari Abu Najih iaitu 'Amr bin 'Abasah - dengan menggunakan 'ain dan ba' - Assulami r.a., katanya: "Dahulu semasih saya berada di zaman Jahiliyah mengira bahawa para manusia itu dalam kesesatan dan bahawasanya mereka itu tidak memperolehi kemanfaatan apa-apa dalam hal mereka menyembah berhala-berhala itu. Kemudian saya mendengar ada seseorang lelaki di Makkah yang memberitahukan berbagai berita luarbiasa dan agung, lalu saya duduk di atas kenderaanku untuk bepergian, kemudian datanglah saya pada orang itu. Tiba-tiba di kala itu Rasulullah s.a.w. sedang bersembunyi - dari kaum kafirin dan musyrikin. Keadaan kaumnya adalah berani-berani padanya - maksudnya: bukannya serba ketakutan semacam menghadapi raja. Kemudian saya beramah-tamah - dengan seorang Quraisy, sehingga saya memasuki kota Makkah. Kepada orang itu - yakni Rasulullah s.a.w. - saya bertanya: "Siapakah anda?" Jawabnya: "Saya seorang Nabi." Saya bertanya lagi: "Apakah Nabi itu." Jawabnya: "Saya diutus oleh Allah." Saya bertanya lagi: "Dengan membawa ajaran apakah anda diutus?" Jawabnya: "Allah mengutus saya dengan ajaran supaya mempereratkan kekeluargaan, mematahkan semua berhala dan supaya hanya Allah jualah yang dimaha esakan serta tidak disekutukanlah sesuatu denganNya." Saya bertanya pula: "Siapakah yang sudah menjadi peserta anda?" Jawabnya: "Seorang merdeka dan seorang lagi hamba sahaya." Pada saat itu yang telah menjadi pengikutnya ialah Abu Bakar dan Bilal radhiallahu 'anhuma. Kemudian saya berkata: "Saya ingin menjadi pengikut anda." Jawabnya: "Sesungguhnya anda tidak kuat untuk menjadi pengikutku pada saat sekarang ini. Tidak anda ketahuikah bagaimana hal-ehwalku dan hal-ehwal para manusia ini - yakni bahawa beliau s.a.w. selalu dikejar-kejar untuk disakiti. Tetapi sekarang kembalilah ke tempat keluarga anda. Nanti jikalau anda telah mendengar tentang diriku bahawa aku telah muncul - memperolehi kemenangan, maka datanglah padaku."

Abu Najih berkata: "Saya lalu pergi menemui keluargaku lagi. Rasulullah s.a.w. datang di Madinah - setelah agak lama dari terjadinya peristiwa di atas. Saya masih berada di kalangan keluargaku, lalu mulailah saya mencari-cari beberapa berita dan saya bertanya kepada orang banyak ketika datangnya di Madinah, sehingga datanglah kepadanya itu sekelompok dari penduduk Madinah. Saya bertanya kepada orang Madinah: "Apakah yang dilakukan oleh lelaki - yakni Nabi s.a.w. - yang datang di Madinah itu?" Orang-orang menjawab: "Orang-orang sama bergegas-gegas menyambutnya. Kaumnya sendiri sudah menginginkan akan membunuhnya, tetapi mereka tidak dapat melakukan yang sedemikian itu."

Selanjutnya datanglah saya di Madinah dan saya masuk menghadap padanya. Kemudian saya berkata: "Ya Rasulullah, adakah anda mengenal saya?" Beliau menjawab: "Ya, engkau yang menemui saya dahulu di Makkah?" Saya berkata lagi: "Ya Rasulullah beritahukanlah padaku tentang apa-apa yang dipelajarkan oleh Allah pada anda dan yang saya tidak mengetahuinya. Beritahukanlah kepadaku perihal shalat." Jawabnya: "Shalatlah shalat Subuh, lalu berhentilah melakukan shalat sehingga matahari terbit sampai berada di atas setinggi batang galah, sebab sesungguhnya matahari itu terbit di antara kedua hujung tanduk syaitan dan di saat itu bersujudlah orang-orang kafir pada matahari tadi. Kemudian bersembahyanglah - sesuka hatimu dari shalat-shalat sunnah, sebab sesungguhnya shalat itu disaksikan dan dihadiri oleh para malaikat. Demikian itu sehingga menyedikitlah bayangan galah tadi - jikalau ditanam tegak. Selanjutnya berhentilah melakukan shalat, sebab di kala itu sesungguhnya neraka Jahanam sedang menyala hebat-hebatnya. Jikalau bayangan telah lalu - ke arah timur, maka bersembahyanglah - yakni Zuhur, sebab sesungguhnya shalat itu disaksikan dan dihadiri oleh para malaikat, sehingga anda bersembahyang 'Ashar, kemudian berhenti pulalah melakukan shalat itu, sehingga matahari terbenam, sebab sesungguhnya matahari itu terbenam di antara kedua ujung tanduk syaitan dan di kala itu bersujudlah orang-orang kafir kepada matahari tadi."

Abu Najih berkata selanjutnya: "Saya terus berkata lagi: "Ya Nabiullah, tentang wudhu' beritahukanlah itu kepadaku!" Beliau s.a.w. bersabda: "Tiada seorang pun dari engkau semua yang menyediakan air wudhu'nya, kemudian ia berkumur-kumur lalu mengisap air dalam hidung lalu mengeluarkannya lagi dari hidungnya itu melainkan jatuhlah semua kesalahan wajahnya, mulutnya dan pangkal hidungnya. Kemudian apabila ia membasuh mukanya sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah, maka jatuhlah kesalahan-kesalahan wajahnya dari hujung-hujung janggutnya beserta air, kemudian membasuh kedua tangannya, maka jatuhlah kesalahan-kesalahan kedua tangannya dari jari-jarinya beserta air, kemudian mengusap kepalanya, maka jatuhlah kesalahan-kesalahan kepalanya dari hujung-hujung rambutnya beserta air, kemudian membasuh kedua kakinya sampai kedua tumitnya, maka jatuhlah kesalahan-kesalahan kakinya dari jari-jarinya beserta air. Seterusnya jikalau orang itu berdiri lalu bersembahyang, bertahmid serta memuji dan memaha agungkan Allah yang memang Allah itu belaka yang ahli - memiliki puji-pujian dan keagungan - tadi, juga mengosongkan hatinya untuk semata-mata ditujukan kepada Allah Ta'ala, maka setelah ia selesai semuanya, ia akan terlepas dari kesalahan-kesalahannya sebagaimana keadaannya ketika pada hari dilahirkan oleh ibunya - yakni bersih sama sekali dari segala macam kesalahan dan dosa."

'Amr bin 'Abasah memberitahukan Hadis ini kepada Abu Umamah, yakni sahabat Rasulullah s.a.w. lalu Abu Umamah berkata padanya: "Hai 'Amr, lihatlah apa yang engkau katakan itu, seseorang dapat diberi pahala sebanyak itu hanya dalam satu tempat saja, patutkah sedemikian itu." Abu Umamah bertanya demikian kerana agaknya masih sangsi akan kebenaran Hadis yang dibawa oleh 'Amr tadi. 'Amr lalu menjawab: "Hai Abu Umamah, usiaku ini sudah tua, tulang-tulangku pun sudah lemah, bahkan ajalku juga sudah hampir sampai. Saya merasa tidak akan ada gunanya untuk membuat kedustaan atas nama Allah atau atas diri Rasulullah s.a.w. Andaikata saya tidak mendengar sendiri dari Rasulullah s.a.w., melainkan sekali, atau dua kali, tiga kali - sampai dihitung-hitungnya sebanyak tujuh kali, pasti saya tidak akan memberitahukan Hadis ini selama-lamanya. Tetapi saya mendengar Hadis itu bahkan lebih banyak lagi dari sekian kali itu." (Riwayat Muslim)

Jura-a-u 'alaihi qaumuhu dengan jim yang didhammahkan dan dimadkan menurut wazan 'ulama-u, yakni berani, tidak takut-takut serta tidak ada keseganan. Ini adalah riwayat yang masyhur. Alhumaidi dan lain-lain ahli Hadis meriwayatkan hira-un dengan kasrahnya ha' muhmalah dan berkata: "Maknanya ialah pemarah, banyak menderita kesusahan dan kesedihan, telah dialahkan kesabarannya sehingga membekaslah pada tubuh mereka. Hiraun ini berasal dari kata-kata: hara jismuhu yahri, maknanya jikalau telah susut kerana terkena penyakit, kesedihan atau lain-lainnya. Yang shahih ialah dengan jim - yakni juraau.

Sabda Nabi s.a.w. baina qarnai syaithan maksudnya dari kedua tepi kepala syaitan. Murad sedemikian ini adalah sebagai perumpamaan yang maksudnya bahawa syaitan itu pada ketika terbit atau terbenamnya matahari, selalu bergerak dengan semua pembantu-pembantunya, juga sama memberikan pengaruh kekuasaan buruk.

Sabda beliau s.a.w.: yuqarribu wadhu-ahu maknanya ialah mendatangkan air yang akan digunakan untuk berwudhu'. Kharrat khathayahu dengan menggunakan kha' mu'jamah, ertinya jatuh. Sebahagian ulama meriwayatkan dengan kata: jarat dengan jim, ertinya mengalir. Yang shahih ialah dengan kha' dan inilah yang merupakan riwayat Jumhur. Yastantsiru ertinya mengeluarkan kotoran-kotoran yang ada dalam hidungnya. Annatsrah ialah hujung hidung.

438. Dari Abu Musa al-Asy'ari r.a. dari Nabi s.a.w., katanya: "Jikalau Allah menghendaki kerahmatan kepada sesuatu ummat, maka diambillah - dimanfaatkanlah - Nabi pun dahulu sebelum ummat itu, lalu dijadikanlah Nabi tadi sebagai orang yang dahulu - dalam menyiapkan kemaslahatan-kemaslahatan ummat itu serta yang terkemuka - yakni merupakan penarik pahala yang akan dibalas dengan adanya kesabaran atas kematiannya itu. Tapi jikalau Allah menghendaki kerosakan untuk sesuatu ummat, maka disiksalah ummat itu selagi Nabi mereka masih hidup. Jadi Allah merosakkan ummat itu dan Nabi mereka melihat keadaannya, maka Nabi tadi menetapkan sendiri tentang penglihatan matanya bahawasanya ummatnya itu telah menjadi rosak binasa, ketika mereka mendusta-kan serta bermaksiat padanya." (Riwayat Muslim)

Nota kaki:

Ini andaikata diperagakan menjadi suatu yang berbentuk sebagai benda, maka kerana banyaknya kerahmatan itu, sehingga dapat memenuhi antara langit dan bumi kerana amat besar dan agungnya. 

Lengkapnya ayat di atas ialah: "Dan barangsiapa yang tidak mengikuti aku, maka sesungguhnya Engkau adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." Surat Ibrahim 36.

Surah al-Maidah, 118.

Didekatkan di sini maksudnya ialah dalam hal dekat memperolehi kemuliaan, kerahmatan dan kebaikan Allah. Jadi bukan dekat jarak atau perihal tempatnya, sebab Allah memang tidak memerlukan tempat.